Tradisi Gusdurian Merawat Islam Humanis untuk Generasi Muda

 

Bedah Buku Tuhan Tidak Perlu dibela karya Gus  Dur dalam acara Haul Gusdurian Cirebon

Mertika, Cirebon -‎ Mendung di Kota Cirebon menutup senja di sepanjang jalan Kandang Perahu, tak terkecuali dengan tempat Kopi Satu Visi. Sejumlah orang pada sore, 22 Januari memperingati haul Gusdurian Cirebon dengan kegiatan membedah buku "Tuhan tidak Perlu dibela" karya presiden ke-empat itu. 

‎Merayakan tahun ke-16 dengan membedah buku di Kopi Satu Visi seakan sebuah 'ijtihad' spasial yang jenius. Hal ini seperti hujan ide sore hari yang menyirami terik negara menghantam kebebasan. 

‎Karena jauh sebelum acara dimulai, ide untuk merawat nilai Islam Humanis Gus Dur untuk generasi muda, terlontar dari dua pemuda. Mereka adalah Noer Fahmiatul Ilmia dan Nashrul Abdullah yang merupakan bagian dari Gusdurian Cirebon. 

‎Bahwa nilai Gusdurian yang akan dibawa dalam acara ini menjadi cermin bagi diri mereka untuk berdampak. Dalam beberapa waktu ke belakang mereka merasa kekeringan. Maka, buku "Tuhan tidak Perlu dibela" menjadi sebuah penampungan yang akan dialiri menuju hamparan yang relevan. 

‎"Sebenarnya aku merasa kurang juga si di Gusdurian ini, tapi Gusdurian itu kan bawa nilai pluralisme itu kan, " ujar Nashrul, yang akrab disapa Arul saat berbincang soal bergabungnya dia dalam Gusdurian Cirebon pada Desember 2025 lalu. 

‎Dalam waktu dan perbincangan di meja yang sama, Fahmi mencerahkan malam di bulan penghujan dengan kepastian kegiatan haul Gusdurian. Ia berkata, "Nah kita mau bedah buku," ungkapnya dari hasil rapat mereka. 

Prosesi Bedah: Islam Humanis sebagai Etika Kehidupan

Di bawah lampu temaram Kopi Satu Visi, diskusi tak berangkat dari podium tinggi, melainkan dari lingkaran kesadaran bersama. Buku Tuhan Tidak Perlu Dibela dibaca bukan sebagai teks sakral, melainkan sebagai undangan berpikir. Undangan untuk bertanya ulang: atas nama siapa Tuhan sering dibela, dan siapa yang justru terluka karenanya.

Noer Fahmiatul Ilmia, pembedah buku yang sore itu hadir menggantikan pemateri utama, memulai dengan menarik garis besar kerangka pemikiran Gus Dur. Menurutnya, tulisan-tulisan dalam buku tersebut tak bisa dilepaskan dari konteks sosial, ekonomi, dan politik. Namun dari semuanya, Fahmi menekankan bahwa sisi agama dan kemanusiaan justru paling terasa relevansinya hari ini.

“Di situ Gus Dur banyak menyoroti soal monopoli kebenaran,” ujar Fahmi. Tafsir keagamaan, lanjutnya, kerap dikunci oleh kelompok tertentu lalu dipakai untuk menghakimi yang lain. Atas nama Tuhan, agama berubah dari spirit pembebasan menjadi alat penindasan.

Ia mencontohkan peristiwa-peristiwa nyata yang masih terus berulang: pengusiran kelompok Ahmadiyah, pembubaran kegiatan keagamaan minoritas, hingga stigma sesat terhadap sesama umat Islam. 

“Padahal sama-sama Islam. Tapi karena klaim paling benar, yang lain dianggap salah dan layak disingkirkan,” katanya.

Di titik inilah Gus Dur menjadi relevan. Bukan karena ia presiden, melainkan karena keberaniannya menempatkan kemanusiaan di atas politik dan identitas. Fahmi menegaskan, Indonesia masih rawan “jualan agama”. Tokoh agama diposisikan seperti “Tuhan kedua”, sementara Tuhan yang sejati justru diperlakukan seolah rapuh dan perlu dibela.

“Kesadaran itu yang harus dibangun. Mana substansi agama, mana budaya, mana kepentingan,” ujarnya. Agama, dalam pandangan Gus Dur adalah etika sosial, bukan alat dominasi.

Fahmi juga menyinggung sembilan nilai Gus Dur yang menjadi rujukan gerakan Gusdurian: tauhid, kemanusiaan, keadilan, pembebasan, persaudaraan, kesatriaan, kearifan tradisi, kesetaraan, dan keberpihakan pada kelompok lemah. Nilai-nilai ini, katanya, bukan dogma, melainkan peta jalan untuk terus bergerak.

“Gus Dur sudah meneladankan. Sekarang tugas kita melanjutkan,” ucapnya pelan, disambut anggukan peserta diskusi.

Anak Muda, Krisis Jati Diri, dan Jalan Keluar

Nada diskusi kemudian bergerak ke kegelisahan generasi muda. Cici Situmorang, salah satu pemantik, melihat buku ini sebagai kumpulan refleksi Gus Dur atas realitas yang belum selesai hingga hari ini. Menurutnya, Gus Dur menulis bukan dari menara gading, melainkan dari kenyataan sosial yang ia saksikan sendiri.

“Tulisan-tulisannya itu realitas. Masalahnya ada, solusi juga ada, tapi sering tidak dijalankan atau tidak konsisten,” kata Cici. Ia menyebut Gus Dur sebagai sosok progresif sekaligus futuristik, orang yang berpikir jauh melampaui zamannya.

Bagi Cici, pesan paling kuat dari buku ini justru terletak pada kesederhanaan Tuhan. Manusia, katanya, terlalu sibuk mencari pembenaran atas nama agama, padahal lupa pada makna kemanusiaan itu sendiri. 

“Tuhan Maha Besar. Siapa kita sampai merasa perlu membela Tuhan?” ujarnya.

Kepada generasi muda yang kerap dicap pesimistis dan mudah putus asa, Cici menawarkan satu kata kunci: menemukan diri. Pesimisme, menurutnya, lahir dari ketidaktahuan akan jati diri dan tujuan hidup. Ketika seseorang mengenal dirinya, ia bisa menjadi support system bagi dirinya sendiri dan orang lain.

Ia juga menyoroti peran media sosial. Bukan sekadar ruang hiburan atau pelarian, melainkan alat perjuangan. “Kenapa hal-hal buruk bisa viral, tapi yang kritis dan baik tidak kita suarakan lebih keras?” katanya. 

Media sosial, bagi Cici, seharusnya menjadi medium untuk menyampaikan keresahan, membangun kesadaran, dan merawat nalar kritis.

Di tengah kekhawatiran akan menyempitnya ruang kebebasan berekspresi, Cici mengingatkan pentingnya strategi. Kritik tetap harus hidup, meski cara menyampaikannya perlu lebih cerdas. 

“Yang terpenting bukan hanya infrastruktur atau kemajuan tampilan luar, tapi sumber daya manusianya. Mindset-nya,” tegasnya.

Malam kian larut, hujan masih menggantung di langit Cirebon. Namun diskusi di Kopi Satu Visi justru terasa menghangat. Bedah buku ini bukan sekadar ritual haul, melainkan ruang bertumbuh, tempat gagasan Gus Dur dialirkan kembali ke generasi yang sedang mencari arah.

Di antara cangkir kopi dan halaman buku yang terbuka, satu pesan mengendap perlahan: Gus Dur sudah meneladankan. Sekarang tugas kita melanjutkan. 



Penulis: Raihan Athaya Mustafa

Editor: Redaksi Mertika


Posting Komentar

1 Komentar