Harga Kepokmas Naik Jelang Ramadan, Pedagang Pasar Cirebon Sorot Dampak MBG


Ilustrasi by AI

Menjelang Ramadan 1447 H pada awal bulan Februari 2026, harga kebutuhan pokok di sejumlah Pasar Tradisional Kabupaten Cirebon naik. Sejumlah pedagang menilai lonjakan itu turut dipengaruhi program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Kenaikan harga bahan pokok sebenarnya merupakan pola yang berulang setiap tahun. Konsumsi rumah tangga meningkat, pedagang mengantisipasi lonjakan pembelian, dan distribusi kerap terpengaruh faktor cuaca. 

Dalam perspektif ekonomi, program berskala besar yang menyerap bahan pangan dalam jumlah signifikan berpotensi menciptakan permintaan tambahan. 

Jika pasokan tidak bertambah dalam kecepatan yang sama, tekanan harga dapat terjadi. Meski demikian, dugaan ini belum dapat dipastikan sebagai faktor tunggal. Fluktuasi harga tetap dipengaruhi banyak variabel, mulai dari cuaca, rantai distribusi, biaya logistik, momentum Ramadan, serta variabel tambahan yakni MBG.

Pasar Sumber: Pedagang Rasakan Dampak Permintaan, Pengelola Sebut Kenaikan Masih Musiman

Pada 2 Februari 2026, di Pasar Sumber, Kabupaten Cirebon, Leni, pedagang sayur di los lantai satu, berbicara lugas mengenai apa yang ia rasakan sejak MBG berjalan.

Menurut Leni, kenaikan harga bukan semata karena satu faktor. Ia menyebut ada dua penyebab utama yang terjadi bersamaan, antara cuaca maupun permintaan dalam skala besar.

“Ini tuh udah kondisi hujan sama MBG. Kendalanya dua. Iya, mau Ramadan juga. Tapi kendalanya hujan sama MBG.” 

Ia menegaskan pola yang ia lihat berulang. “Itu sayur naik tuh. Ada MBG, berhasil sayur tuh, mehong. Pokoknya ada MBG aja sayur tuh, mahal. Dulu waktu liburan (anak sekolah), turun aja semua, drastis turun. Pas MBG jalan lagi, harganya bludak lagi,” ujar Leni. 

Sebagai pedagang kecil, ia berharap harga tetap dalam batas wajar. “Minta jangan mahal-mahal, kasihan masyarakat kecilnya. Yang standar aja, kasihan.”

Pernyataan Leni menjadi satu sisi cerita. Namun di pasar yang sama, Kepala Pasar Sumber, Didi Sunedi, menyampaikan pandangan yang lebih hati-hati.

“Kira-kira kalau pasti kenaikan lagi, menjelang awal puasa. Menjelang awal puasa, satu atau dua hari tuh naik. Nah setelah puasanya, kan sepi dulu. Sepi, turun lagi. Nanti naik lagi menjelang Idul Fitri,” jelasnya.

Menurut Didi, kenaikan yang terjadi sejauh ini masih dalam batas normal musiman.

“Naik juga nggak terlalu signifikan sih, masih di bawah normal naiknya. Kalau misalkan naiknya Rp1.500 juga kan masih normal,” katanya.

Ketika ditanya soal faktor penyebab, ia menyebut cuaca sebagai salah satu variabel.

“Kalau untuk kenaikan dari cabai, bawang, mungkin dari faktor cuaca juga bisa. Ada faktor cuaca yang mempengaruhi.”

Bagaimana dengan pengaruh MBG?

“Kalau program MBG belum terasa sih kita tuh. Soalnya dari MBG, apa sih bahan-bahannya dari pasar, atau mereka dari stok sendiri ke agen yang lebih besar mungkin,” ujarnya.

Ia menambahkan, “Kalau menurut saya sih nggak ada masalah.”

Perbedaan pandangan ini memperlihatkan kompleksitas situasi di lapangan. Di satu sisi, pedagang kecil merasakan langsung perubahan pola permintaan. Di sisi lain, pengelola pasar melihat kenaikan sebagai siklus musiman yang biasa terjadi menjelang Ramadan.

Pasar Pasalaran: Pola Belanja Berubah diduga akibat MBG 

Cerita serupa muncul di Pasar Pasalaran, Kecamatan Plered. Siti Maryam, pedagang daging ayam, secara tegas mengaitkan kenaikan harga ayam dengan MBG.

“Gara-gara ada MBG tuh… baru satu minggu lah. Semenjak MBG mulai ada lagi tuh. Waktu nggak ada MBG mah ayam turun, 30, 28. Pas ada MBG tuh langsung naik… sekarang paling mahal tuh 40,” ujarnya.

Menurutnya, dalam kurun sekitar satu bulan setengah sejak MBG aktif kembali, harga ayam melonjak dari kisaran Rp28–30 ribu menjadi Rp40 ribu per kilogram.

“Jadi MBG tuh ngaruh kalau orang pegang ayamnya,” katanya.

Ia juga menyampaikan kritik terhadap pelaksanaan program tersebut. “Jangan bagi-bagi uang ya, mendingan uangnya buat masyarakat aja. Terus kalau MBG tuh kalau bisa diuangkan aja, jangan makanan percuma. Makanan itu banyak yang dibuang. Soalnya sekolahnya ibu tuh rumahnya dekat sekolahan, dibuangin.”

Ia menyebut menu yang diterima siswa antara lain nasi lengko, nasi kuning, burger, dan mie goreng, dengan nilai sekitar Rp15 ribu per porsi. Harapannya sederhana: harga ayam kembali normal.

“Pengen normal 30, 32. Soalnya kalau lebaran juga biasanya paling mahal tuh 36. Ini sampai 40,” katanya.

Sementara itu, pedagang senior yang akrab disapa Hajah Linda, berjualan sejak 1992 ini menggambarkan kondisi pasar yang semakin sepi.

“Masya Allah ini memprihatinkan banget. Situasinya, lihat aja. Jam segini aja sudah enggak ada orang pembeli,” ujarnya.

Untuk daging sapi, ia menyebut harga relatif stabil namun tetap mengalami kenaikan.

“Dari minggu-minggu kemarin sih masih di harga Rp135 ribu. Nah sekarang Rp140 ribu yang super. Tapi kalau yang tenderloin sama sirloin itu mencapai Rp150 ribu. Tapi kita ratain Rp140 ribu,” katanya.

Untuk ayam broiler besar, ia menjual di harga Rp37 ribu. Sementara ayam broiler kecil lebih mahal dengan selisih beberapa ribu rupiah.

Namun yang ia soroti bukan hanya harga, melainkan perubahan perilaku pembeli.

“Biasanya beli kan satu kilo, dua kilo. Sekarang sudah enggak ada. Jarang. Mungkin ibu-ibunya juga mending di rumah aja belinya. Soalnya anak-anak sudah terjamin, sudah ada makanan paginya dari pemerintah,” ujarnya.

Ia mengaku pedagang tidak serta-merta diuntungkan jika MBG menyerap pasokan.

“Kalau MBG kan agak rendah nerimanya ke kitanya, di bawah pasaran. Jadi untungnya mana gitu kitanya,” katanya.

Menurutnya, kunjungan pejabat hanya sebatas pemantauan umum. Kondisi ini membuatnya berharap stabilitas harga dan perhatian pada kondisi pasar tradisional.

“Bupati di sini hanya sekadar ngontrol. Enggak tanya masalah seperti itu. Duransinya juga enggak banyak,” ujarnya. “Harapannya pemerintah bisa memperbaiki kondisi, menyetabilkan harga pasar di sini.”

Rangkaian pernyataan ini menunjukkan satu hal: pasar tradisional tidak hanya berbicara soal angka, tetapi juga persepsi dan pengalaman langsung pelaku usaha kecil. Sebagian pedagang mengaitkan kenaikan harga dengan MBG, sebagian lainnya melihat faktor musiman dan cuaca lebih dominan.

Di tengah perbedaan pandangan itu, satu fakta tak terbantahkan: sejumlah pasar tradisional di Kabupaten Cirebon sedang sepi. Kenaikan harga, perubahan pola belanja, serta hadirnya program besar pemerintah telah mengubah ritme ekonomi kecil yang selama puluhan tahun berjalan stabil.

MBG dirancang untuk memperbaiki kualitas gizi generasi muda. Namun di pasar tradisional, dampaknya terasa dalam bentuk lain: papan harga yang berubah, pembeli yang berkurang, dan pedagang yang berharap situasi segera kembali seimbang.


Penulis: Raihan Athaya Mustafa

Editor: Redaksi Mertika



Posting Komentar

0 Komentar