Dilematis Mahasiswa S1 Sejarah, Apakah Benar Lulus Nanti Prospek KerjanyaMenjadi Pasukan Keraton?


Masa depan adalah sesuatu yang misterius sekaligus menakutkan, terutama bagi sebagian mahasiswa di Indonesia ketika harus menentukan jurusan kuliah. Banyak dari kami memilih program studi bukan berdasarkan perencanaan matang, melainkan karena dorongan keadaan, tekanan keluarga, atau sekadar mengikuti arus. 

Di era yang sering disebut sebagai era keterbukaan seperti sekarang, ironisnya konsep bimbingan karier di kampus justru terasa semakin kabur. Barangkali sudah saatnya perguruan tinggi menghadirkan mata kuliah khusus dengan beban SKS yang jelas, semacam “mata kuliah rencana hidup”, terutama bagi jurusan-jurusan yang kerap dianggap abu-abu seperti Sejarah.

Tulisan ini bukan bermaksud menyalahkan program studi atau dosen-dosen yang telah bersusah payah mengajarkan kami membaca masa lalu. Namun, kegelisahan tetap layak diajukan: apakah jurusan seperti Sejarah benar-benar dibutuhkan dalam dunia kerja profesional hari ini? Pertanyaan ini terasa semakin menyakitkan ketika melihat realitas bahwa pekerjaan yang linear saja sulit didapatkan, sementara yang tidak linear pun sering kali berakhir pada kerja serabutan. 

Lulusan baru kini berlomba-lomba menjadi peserta dalam berbagai event nasional yang menjanjikan jutaan lapangan pekerjaan, entah relevan atau tidak dengan latar belakang pendidikan. Ah, sudahlah. Sejujurnya, tulisan ini adalah cara penulis menumpahkan fase kegalauan quarter life crisis yang tak kunjung usai.

Penulis tidak tahu siapa yang pertama kali mempopulerkan istilah “salah jurusan” di Indonesia. Namun, fenomena ini telah berkembang menjadi sesuatu yang mengkhawatirkan. Berdasarkan riset Irene Guntur, seorang educational psychologist dari Integrity Development Flexibility, sekitar 87 persen mahasiswa di Indonesia mengaku telah memilih jurusan yang salah. Angka ini tentu menggelitik sekaligus menyesakkan. Apakah ini berarti mayoritas mahasiswa Indonesia gagal merancang masa depan mereka sendiri, atau justru sistem yang membuat mereka terjebak?

Masalah salah jurusan tidak sesederhana kurangnya riset saat memilih kuliah. Ia adalah problem kompleks yang sering baru terasa ketika mahasiswa sudah menempuh semester pertengahan hingga tingkat akhir. Faktor internal dan eksternal saling bertaut. Ada yang masuk jurusan karena paksaan orang tua, ada yang ikut-ikutan teman, dan ada pula yang terlalu percaya diri dengan prestasi SMA sehingga merasa mampu menaklukkan apa pun. Penulis dengan jujur mengakui termasuk dalam kategori terakhir. Kepercayaan diri yang dulu terasa heroik, kini berubah menjadi bahan refleksi yang pahit.

Fakta-fakta tersebut menjadi semakin relevan bagi penulis, seorang mahasiswa Sejarah Peradaban Islam yang kini berada di fase akhir perkuliahan. Sembilan semester telah dilewati, skripsi sedang dikejar, tetapi satu pertanyaan tetap menghantui: “Lulus nanti mau jadi apa?” Jawabannya nyaris tidak pernah berubah: “Mau jadi Pasukan Keraton.” Awalnya, jawaban itu hanya guyonan agar tidak tampak terlalu bingung atau malu di hadapan orang lain. Namun, semakin lama, guyonan tersebut justru terasa masuk akal. Profesi Pasukan Keraton setidaknya masih bersinggungan dengan sejarah, tradisi, dan budaya. Tinggal membentuk fisik, menaati aturan adat, dan menerima nasib dengan nrimo ing pandum, sebuah mentalitas yang tanpa sadar telah dilatih selama bertahun-tahun kuliah sejarah.

Sebagai manusia beragama, penulis percaya bahwa rezeki sudah diatur. Namun, pengaturan itu tentu tidak turun dari langit tanpa konteks. Ia berangkat dari kondisi nyata, dari struktur sosial, politik, dan ekonomi yang ada. Di sinilah kegelisahan mahasiswa sejarah bermula. Kami ragu terhadap permintaan pasar kerja yang benar-benar membutuhkan keahlian sejarawan, terutama bagi lulusan baru. Meski demikian, menyimpulkan bahwa jurusan Sejarah tidak dibutuhkan jelas merupakan kekeliruan. Sejarawan muda seperti kami tetap dibutuhkan, meski kadang hanya untuk menjaga toko roti, mengurus administrasi, atau terlibat dalam afiliasi e-commerce.

Masalahnya kemudian, untuk apa kita terus membicarakan linearitas profesi jika sejarawan profesional saja baru dipanggil ketika muncul kegaduhan nasional? Isu klaim budaya oleh negara tetangga, polemik penamaan stasiun, atau perdebatan sejarah yang viral di media sosial menjadi momentum langka bagi kami untuk ikut bicara dan, siapa tahu, mengais rezeki. Di luar itu, sejarah kembali dilupakan.

Secara pragmatis, mahasiswa sejarah memang disiapkan untuk menjadi sejarawan. Namun, pekerjaan sebagai sejarawan di Indonesia kerap terasa absurd. Cobalah tanyakan kepada profesor sejarah yang Anda kenal mengenai detail sejarah asli Supersemar 1965. Jika jawabannya jelas dan tuntas, mungkin kami masih memiliki harapan. Jika tidak, itulah gambaran kondisi kami. Prospek kerja sudah bias sejak awal. Situasi ini diperparah oleh pernyataan pejabat publik yang meremehkan atau menegasikan peristiwa sejarah, termasuk tragedi kemanusiaan. Dampaknya bukan hanya pada narasi sejarah, tetapi juga pada keberlangsungan hidup sejarawan itu sendiri, hingga urusan paling mendasar seperti isi rice cooker di rumah kontrakan.

Sejarawan di Indonesia kerap dianggap tidak penting, sulit diaktualisasikan, dan rawan mengganggu kepentingan politik. Padahal, aktivitas kami sederhana. Membaca arsip, mengunjungi situs-situs kuno yang sering tak terurus, melakukan verifikasi, meneliti, lalu bercerita. Namun, semua itu kerap direduksi menjadi sekadar dongeng. Bahkan dosen dan profesor pun tidak selalu dihargai hasil penelitiannya. Apalagi mahasiswa yang baru belajar berpikir historis, kadang terlalu percaya diri bahwa judul skripsinya akan mengubah wajah sejarah lokal, meski malas membaca buku.

Penulis merasa komunitas sejarah tidak memiliki ruang yang layak dalam bursa kerja, juga tidak mendapatkan sokongan pendidikan lanjut yang progresif dan bebas intervensi politik. Padahal, dengan dukungan semacam itu, sejarawan muda bisa memiliki masa depan yang lebih cerah, atau setidaknya hidup sejahtera dari kerja mengingat dan merawat masa lalu. Kami tidak ingin menjadi mahasiswa sejarah yang tidak memiliki sejarah.

Kegalauan ini mengingatkan penulis pada pernyataan dosen Filsafat Sejarah, Gumilar Irfanullah, yang mengatakan bahwa sejarah memiliki siklus, hanya versinya yang berbeda di setiap zaman. Melihat kondisi dunia sejarah Indonesia hari ini, rasanya kami sedang berada dalam fase keterpurukan. Situasi ini menyerupai era kegelapan Eropa abad pertengahan. Iman terhadap sejarah pun goyah, hingga muncul perasaan salah jurusan. 


Penulis: Farhat Kamal

Editor: Redaksi Mertika

Meski begitu, kami tetap percaya bahwa sejarah memiliki kekuatan lintas zaman. Seperti kata George Santayana, mereka yang tidak mengingat masa lalu akan dikutuk untuk mengulanginya. Itulah rukun sejarah nomor satu.

Sayangnya, manusia sering gagal belajar dari masa lalu. Itulah rukun sejarah nomor dua. Maka, jika ada lowongan kerja sebagai Pasukan Keraton, mohon hubungi penulis. Penulis butuh pekerjaan untuk membiayai S2 Sejarah yang mahal, bos. 


Posting Komentar

0 Komentar