Kedutaan Palestina ada di London: Jangan Senang Dulu

Ilustrasi by Prompt AI

Bulan September 2025: Negara Inggris mengakui Negara Palestina dan mengizinkan diplomasi di London, dalam bentuk kedutaan. Mungkin bagi para orang awam, ini adalah kabar baik. Salah satu negara pencetus modernisasi, julukannya cerobong asap dunia, mengakui Palestina.

Negara yang tak bosan memulai konflik semenjak Perang Dunia I dan II. Kiranya pembaca juga lelah melihat berita. Perjanjian damai yang dilanggar hingga media besar settingan. Selain itu, tak bisa dipungkiri masyarakat dunia muak dan aksi ‘save Palestina’ ada di mana-mana. Tentu saja bagi yang memihak kemanusiaan. 

Oleh karena itu, karya ini dimaksudkan bukan esai yang membahas sentimen warga dunia. Karena di balik pengakuan negara parlementer, pernah ada satu keputusan di masa silam yang memulai semuanya. Konflik di Timur Tengah, dibuat langsung oleh Inggris. Pada saat itu mereka memegang Palestina dalam Politik Internasional saat PD I. Dengan satu Deklarasi Balfour, konflik abadi di Timur Tengah di mulai.

Tujuan esai ini adalah mencoba mengingat sedikit apa itu Deklarasi Balfour, peran Inggris, dan apa gunanya pengakuan yang dibuat mereka. Sebab mereka dan rekan-rekannya adalah negara yang menguasai sumber daya; negara yang kaya. Adapun sikap mereka pada Palestina bisa disebut reaktif daripada proaktif. Maka dari itu mengapa esai-esai seperti ini bermunculan. 

Deklarasi Balfour dan Dampaknya

Deklarasi Balfour, dikeluarkan oleh Arthur James Balfour, selaku Menteri Luar Negeri Inggris; kepada Lionel Walter Rothschild pada 2 November 1917. Deklarasi ini diciptakan pada masa perang dunia pertama (1914-1918) dan upaya ini merupakan tindakan politik Inggris untuk mendapatkan dukungan dari Yahudi pro-Inggris.

Inggris berharap mendapatkan simpati dari komunitas Yahudi yang ada di Inggris dan merapatkan jalur Terusan Suez menuju India dan melawan Blok Sentral.

Selain mengeluarkan Deklarasi Balfour, Inggris pun sering mengirim surat kepada negara Timur Tengah seperti Arab dan Mesir. Hal itu dibuktikan ketika Inggris dipilih mewakili Palestina di Liga Bangsa-Bangsa yang baru dibentuk 24 Juli 1942. Jelas putusan ini membuat orang Palestina marah, mereka tidak memiliki suara atas bangsa mereka sendiri.

Secara tertulis Inggris mendukung bangsa Yahudi untuk bermukim di wilayah Palestina. Surat itu memiliki polemik, karena James mengirim pada Rotschild, bukan pada David Lindo Alexander yang sebagai ketua persatuan Yahudi di Inggris (1903-1917).

Meskipun terkesan hanya pindahan, dalam suratnya “tidak ada yang boleh dilakukan yang dapat merugikan hak-hak sipil dan agama dari komunitas non-Yahudi yang ada di Palestina." Namun, dokumen tersebut tidak menyebutkan hak-hak politik atau nasional komunitas-komunitas ini dan tidak menyebut nama mereka. Pada akhirnya kekerasan tetap ada setelah Inggris tak lagi mewakili Palestina di PBB. 

Secara hukum, bangsa Yahudi resmi tinggal di Palestina. Namun, sudah disebutkan sebelumnya: surat atau perjanjian yang dilakukan oleh Inggris pada negeri Arab atau negeri Timur Tengah bertentangan dengan adanya Deklarasi Balfour ini. Yang kemudian menjadi kontroversi, meski dalam pengaruh perang.

Dalam prosesnya sejumlah 75.000 imigran Yahudi berpindah ke Palestina, dan mengalami penghentian di tahun 1944. Jelas Yahudi tak setuju, mereka mengutuk kebijakan baru itu, ditambah sedang kondisi perang dunia kedua (1939-1945). Akhirnya, berdirilah negara Israel di tahun 1948.

Memang Inggris tidak serta merta dan semena-mena dalam menyetujui perpindahan ini. Namun tetap saja, langkah ini dianggap sebagai keputusan pembuka untuk bangsa Yahudi tinggal dan menetap selama mungkin di tanah mereka sendiri (menurut paham zionis). 

Aksi Kemanusiaan Semata

Apa yang telah Inggris lakukan saat ini adalah hanya berada di sisi kemanusiaan semata. Apa yang telah mereka lakukan sebelumnya tidak bisa dianggap kesalahan, dalam kacamata politik, terutama saat sedang perang dan mempertahankan negara. Bukan berarti memang ingin menebus dosa masa lalu.

Meskipun secara moral awam Inggris memang melakukan kesalahan. Namun dalam sepak terjangnya, beberapa kali Inggris juga membantu negara-negara lain yang memiliki masalah soal perdamaian dan perang, salah satunya Palestina.

Adapun upaya mereka dalam membantu Palestina adalah mengakui wilayah Palestina dalam peta mereka. Kemudian mendukung solusi dua negara. Dan berdonasi sekitar 100 juta euro pada tahun 2023-2024.

Kita masih belum tahu apakah memang benar-benar begitu. Yang penting masih ada negara yang membela Palestina. Kendati sikap yang diambil Inggris cenderung defensif-pasif.

Rencana Besar dan Mega Distraksi

Dibalik kekacauan Israel, tindakan Trump, dan isu File Epstein; ada 2000 lebih manusia yang tewas di Palestina secara bersamaan. Berdasarkan informasi, kematian itu diakibatkan oleh senjata yang menghasilkan panas dan menewaskan banyak orang sekaligus tanpa kerusakan destruktif.

Jelas sekali ini adalah rencana besar elite barat. Sebelumnya Israel selalu menyerang secara terang-terangan dan kabarnya dapat kita temui di berita. Namun sekarang, mereka dengan tergesa-gesa ingin melenyapkan semua warga Palestina di tanah mereka sendiri. Tanah yang dirampas secara hukum oleh Israel dan kroninya bertahun-tahun. Tak lupa didukung oleh senjata canggih Amerika dan NATO.

Kedutaan memang bisa disebut kabar baik di tengah kabar buruk yang beredar. Namun kenyataan yang sebenarnya selalu ditutupi oleh barat. Entah barat yang baik atau yang buruk, ini hanya soal untung dan rugi. Dan sampai kapan kita hanya menjadi penonton, atau lebih parahnya pura-pura tak tahu, atau memilih tidak peduli.

Diakuinya Palestina oleh Inggris semenjak bulan September 2025 memberi kekuatan dalam kancah politik internasional. Memberi sedikit harapan bahwa Palestina masih bisa bertahan. Tetapi, semua orang tahu, untuk menjinakan bom adalah memutus kabel merah atau biru. Bukan menghilangkan benda-benda yang dapat rusak di sekitarnya.

Logika ini membuat kita semua berpikir, apa yang bisa mereka lakukan hanya ini? Apakah tidak ada lagi tindakan cerdas dan berdampak yang bisa mereka lakukan? Rasa-rasanya kemanusiaan kita menjadi mati rasa seiring ketidakberdayaan muncul dalam benak kita.


Penulis: Angga Putra Mahardika | Penulis Buku

Editor: Redaksi Mertika



Posting Komentar

0 Komentar