![]() |
| Foto Bersama Peserta dengan Dyah (founder Anak ABG Official) dan Aurellia Sapphire (Narasumber) |
Mertika, Cirebon- Awan mendung yang hendak mengguyur Kota Cirebon dengan hujan, satu per satu anak muda melangkah masuk ke Maple Coffee. Jam menunjukkan pukul 13.30 WIB, di dalam kafe suasana mulai hidup. Hari itu, Komunitas Anak ABG Official kembali menggelar Suara Figur volume dua, sebuah ruang temu yang mempertemukan anak muda dengan figur yang mereka kagumi.
Para peserta disambut oleh pekerja Maple Coffee yang kompak mengenakan kemeja putih dan celana jeans. Di dekat pintu masuk, meja daftar hadir telah disiapkan. Di atasnya, dua buku karya Aurellia Sapphire, figur yang akrab disapa Aurel, dipajang berdampingan. Kehadiran buku-buku tersebut menjadi penanda bahwa siang itu akan diisi dengan perbincangan tentang perempuan, relasi, dan perjalanan mengenal diri.
Ruang utama Maple Coffee ditata sederhana namun intim. Bangku-bangku disusun menghadap layar besar, sementara dua kursi pembicara berada di sisi depan. Harum kopi bercampur dengan percakapan ringan antarpeserta yang sebagian besar adalah perempuan. Mereka datang dengan latar belakang berbeda, tetapi membawa keresahan yang sama, yakni bagaimana menjadi perempuan yang berdaya dan berani bersuara di tengah tuntutan sosial yang kerap membungkam.
Tepat pukul 14.00 WIB, Dyah, Founder Komunitas Anak ABG Official, membuka acara bertajuk Perempuan Hebat: Berdaya dan Bersuara. Dalam sambutannya, Dyah menegaskan komitmen komunitas yang ia dirikan untuk terus merangkul anak muda di Kota Cirebon melalui ruang-ruang diskusi yang relevan dengan isu keseharian mereka.
“Ya kami membentuk Anak ABG Official, sebenarnya mewadahi anak-anak muda di Kota Cirebon. Nah, program-programnya juga soal isu anak-anak muda,” ujar Dyah memberikan konteks sebelum hari acara.
Kalimat itu disambut anggukan peserta. Bagi sebagian dari mereka, kehadiran ruang seperti ini bukan sekadar agenda komunitas, melainkan kebutuhan. Ruang untuk merasa didengar dan dipahami.
Suara Figur: Upaya Mendekatkan Anak Muda dengan Tokoh
![]() |
| Dokumentasi Acara |
Komunitas Anak ABG Official hadir sejak pertengahan 2025. Dalam waktu singkat, komunitas ini dikenal aktif menghadirkan kegiatan berbasis dialog dan edukasi. Suara Figur menjadi salah satu program andalannya. Program ini dirancang untuk mempertemukan anak muda dengan tokoh yang memiliki pengalaman dan perspektif tertentu, tidak hanya untuk berbagi teori, tetapi juga kisah hidup yang membumi.
Suara Figur merupakan pengembangan dari program sebelumnya, Suara Muda, yang lebih menekankan perbincangan horizontal antar anak muda dan komunitas secara tematik. Dalam format baru ini, Anak ABG Official memberi konteks yang lebih dalam melalui kehadiran figur dengan pengalaman personal dan kapasitas intelektual tertentu.
Menurut Dyah, konsep ini lahir dari kegelisahan melihat anak muda yang kerap haus akan figur panutan, tetapi minim ruang dialog yang setara. Suara Figur diharapkan dapat menjembatani kebutuhan tersebut, sekaligus mendekatkan isu-isu yang sedang diminati anak muda, mulai dari kesehatan mental, relasi, hingga pencarian jati diri.
Aurellia Sapphire dan Pentingnya Memilih Diri Sendiri
![]() |
| Aurellia Sapphire |
Sebagai pembicara utama Suara Figur volume dua, Aurellia Sapphire hadir membawa tema tentang keberdayaan dan keberanian bersuara. Dikenal sebagai konten kreator yang konsisten mengangkat isu perempuan dan self improvement, Aurel menyampaikan materinya dengan gaya santai, sesekali diselingi tawa.
Ia menekankan bahwa berdaya dan bersuara bukan hanya penting bagi perempuan, tetapi juga laki-laki. Menurutnya, kemampuan untuk bersuara dan menetapkan batas adalah fondasi penting agar seseorang dapat menjalani hidup dengan lebih jujur terhadap dirinya sendiri.
“Dengan kita berdaya dan bersuara, kita punya batasan toleransi dan standar diri. Supaya kita lebih mudah menjalani hidup, supaya kita berani berdiri untuk diri kita sendiri dan memilih diri kita sendiri,” ujar Aurel.
Ia menyoroti ketakutan sebagai salah satu penghambat terbesar manusia untuk bertumbuh. Ketakutan dinilai orang lain, takut dianggap berbeda, hingga takut mengekspresikan diri sering kali membuat seseorang terjebak dan tidak berkembang. Namun, Aurel menegaskan bahwa hambatan paling kompleks justru datang dari dalam diri.
“Yang paling berat itu ketika kita harus berhadapan sama diri sendiri. Kita melihat kelemahan, kerentanan, dan itu sering dihindari,” katanya.
Menurut Aurel, membangun fundamental diri yang kuat adalah kunci. Ia menggunakan analogi kelas dalam transportasi, seperti kereta dan pesawat, untuk menjelaskan soal standar dan kualitas hidup. Setiap kelas mencerminkan kualitas dan kelayakan tertentu. Jika seseorang merasa belum berada di kelas yang diinginkan, hal tersebut bukan alasan untuk menyerah, melainkan dorongan untuk meningkatkan kapasitas diri.
“Kalau kita belum layak, berarti kita harus menaikkan standar dan tujuan kita,” jelasnya.
Dalam sesi wawancara, Aurel juga berbagi perjalanan personalnya. Ia memulai sebagai konten kreator yang membagikan kisah-kisah seputar perempuan dan relasi, lalu berkembang menjadi public speaker, hingga akhirnya menulis buku. Baginya, memperluas peran berarti memperbesar wadah diri agar siap menerima kesempatan yang lebih luas.
“Aku percaya, ketika kita memperluas wadah kita, artinya kita siap menerima kesempatan yang lain,” ucapnya.
Dua buku yang ia tulis, Logic vs Feelings dan Avoidant vs Anxious, menjadi perpanjangan dari konten-konten yang selama ini ia bagikan. Buku pertamanya berfokus pada bagaimana menjalin hubungan tanpa kehilangan koneksi dengan diri sendiri. Sementara buku kedua mengajak pembaca memahami gaya keterikatan dalam relasi secara lebih mendalam.
Aurel berharap tulisannya bisa menemani pembaca kapan pun mereka butuh. Buku-buku tersebut diharapkan menjadi pengingat untuk selalu kembali dan memilih diri sendiri, lagi dan lagi.
“Always remember who you really are,” katanya menutup sesi dengan penuh keyakinan.
Suara Figur volume dua bukan sekadar agenda diskusi, melainkan ruang aman bagi anak muda, khususnya perempuan, untuk belajar, berbagi, dan merefleksikan diri. Di tengah kota yang terus bergerak, acara ini menjadi jeda yang berarti. Sebuah tempat di mana suara perempuan didengar, pengalaman divalidasi, dan keberanian untuk memilih diri sendiri terus ditumbuhkan.
Bagi Komunitas Anak ABG Official, konsistensi menggelar ruang-ruang seperti ini adalah bagian dari upaya panjang membangun ekosistem anak muda yang kritis, sadar diri, dan berdaya. Sementara bagi para peserta, siang di Maple Coffee itu mungkin akan menjadi pengingat sederhana namun penting bahwa suara mereka layak didengar dan diri mereka layak diperjuangkan.
Penulis: Raihan Athaya Mustafa
Editor: Redaksi Mertika


.jpeg)
0 Komentar