Predator, Koloni, dan Ilusi Kebersamaan

 

Ilustrasi: Prompt AI

Mertika, Esai -- Tentunya kita semua pernah menempuh kelas rantai makanan semasa sekolah, terkait siapa yang memangsa dan siapa yang dimangsa. Dalam skema ini, karnivora dianggap superior sementara herbivora diposisikan sebagai makhluk inferior. Namun, benarkah kekuasaan di alam semata ditentukan oleh naluri berburu?

Golongan Pemangsa umumnya adalah mereka yang dikategorikan sebagai karnivora atau pemakan daging yang lebih superior, sementara yang dimangsa adalah herbivora atau pemakan tumbuhan yang tentunya tidak memiliki insting berburu sehingga dikategorikan sebagai inferior. Beberapa Karnivora hidup secara soliter atau sebagai pemburu tunggal, sedangkan herbivora sudah pasti berkoloni atau berkelompok.

Anggapan ini tercipta atas observasi sederhana terhadap perilaku harimau yang berburu babi dan kijang dalam lebatnya hutan, atau kawanan singa yang berburu kerbau dan rusa di ekosistem sabana. Fenomena tersebut tidak hanya mengafirmasi anggapan terkait karnivora dan herbivora, tetapi juga mengenai superioritas dan inferioritas.

Kerbau dan rusa hanya memiliki satu alat perlindungan diri, yaitu tanduk mereka. Meskipun babi hutan memiliki taring, mereka tidak memiliki kemampuan untuk mengintai dan menerkam. Di sisi lain, singa, harimau, jaguar, dan hewan lain dari genus Panthera memiliki kuku dan taring yang mampu menembus tempurung dan tengkuk dalam satu kali serangan. Ditambah dengan kecerdasan dalam melakukan pengintaian dan kecepatan berlari hingga 60-80 km/jam, membuat mereka mudah melumpuhkan mangsa meskipun dengan ukuran yang dua kali lebih besar.

Faktor superioritas juga terlihat antara ular musang dan elang. Ular dan elang termasuk dalam ordo karnivora, sedangkan musang lebih terperinci sebagai omnivora atau pemakan segala karena mereka juga mengkonsumsi buah dan biji-bijian. Ular tidak memiliki tangan dan kaki, sehingga mudah bagi musang untuk menarik ekor dan menerkamnya dari belakang, begitu pula dengan elang. Ular adalah mangsa yang lebih rapuh dibandingkan musang yang lebih gesit dan dapat memberikan perlawanan meskipun keduanya sama-sama hewan soliter.

Namun, tidak semua herbivora dapat dianggap sebagai mangsa dan inferior; pengecualian ini berlaku untuk gajah, badak, atau kudanil yang terkenal karena menjadi musuh endemik buaya di ekosistem rawa. Selain karena ukuran tubuh yang besar dan kulit yang tebal sehingga sulit untuk dicengkram dan diterkam, para herbivora ini juga hidup berkoloni sehingga dapat saling membantu ketika predator datang memburu.

Artinya, asumsi untuk menempatkan karnivora sebagai predator yang superior dan herbivora sebagai mangsa inferior tidak selamanya benar. Sepertinya superioritas fisik atau fisiologis adalah hal yang berpengaruh lebih besar daripada sekadar superioritas insting sebagai pemburu dalam menentukan kekuatan atau kelemahan suatu spesies dibandingkan dengan spesies lainnya.

Tetapi, jika memang demikian, bagaimana spesies yang tidak memiliki tanduk, cula, gading, taring, atau kulit tebal dan keras seperti zirah, dengan ukuran tubuh yang tergolong kecil dari mamalia darat lainnya yang dikategorikan sebagai predator, dapat memuncaki rantai makanan sebagai ultra predator dari seluruh ekosistem? Ya, dan spesies itu adalah kita, manusia.

Manusia mampu mengamati, belajar, dan mengidentifikasi kelemahan serta keunggulan spesies lain. Manusia memahami mengapa herbivora berkelompok dan menyimpulkan bahwa kerja sama adalah strategi bertahan hidup. Manusia juga belajar dari predator lain. Harimau yang hidup soliter mengandalkan efisiensi, presisi, dan kelincahan di hutan lebat. Singa yang hidup di ruang terbuka seperti sabana mengandalkan kecepatan dan kerja sama koloni. Dari dua pola ini, manusia menyerap keduanya.

Keunikan manusia terletak pada kemampuannya menjadi individu soliter yang taktis sekaligus makhluk sosial yang mampu membangun koloni besar. Kombinasi inilah yang menjadikan manusia bukan sekadar predator puncak, tetapi penguasa ekosistem. Manusia bukan hanya memburu, melainkan juga menjinakkan dan mengendalikan spesies lain.

Namun, setelah ribuan tahun berada di puncak rantai makanan, manusia menghadapi paradoks baru. Ketika tidak ada lagi spesies penantang, kompetisi bergeser ke dalam sesama manusia. Rantai makanan kini terbentuk di dalam spesies itu sendiri. Manusia tidak lagi berburu untuk bertahan hidup, melainkan berperang untuk kejayaan, kekuasaan, dan dominasi.

Solitarian yang Hilang

Peradaban manusia yang hebat terbentuk dari individu-individu soliter yang kuat dan mandiri, namun memiliki kemampuan untuk bekerjasama (negosiasi dan transaksi). Mereka membentuk sebuah sistem kemasyarakatan di mana terdapat yang berkedudukan lebih tinggi untuk mengatur, memutuskan, dan memerintah, tetapi bukan berarti yang menerima perintah bermakna lebih rendah. 

Para individu soliter memahami bagaimana caranya berkoloni secara mutual. Mereka bekerjasama bukan semata untuk kebutuhan hidup sehari-hari, tetapi untuk meraih sesuatu yang lebih bernilai, seperti harga diri dan kekuasaan. Inilah dasar dari apa yang disebut dunia politik modern sebagai meritokrasi, yaitu birokrasi yang berdasarkan pada individu-individu yang berkompetensi.

Namun kini, sepertinya definisi pemahaman tersebut hilang. Dalam era modern, manusia sepertinya lebih banyak diajarkan untuk berkoloni daripada menjadi individu yang independen. Doktrin-doktrin untuk berkelompok digaungkan secara menggantung tanpa menyentuh esensi dasar. Banyak kelompok kecil yang terbentuk sebagai organisasi, komunitas, lembaga swadaya, bahkan sampai pada kepartaian, dan itu semua terjadi karena manusia modern terlalu lemah untuk dapat berpijak di atas kakinya sendiri dan menjadi pemburu tunggal seperti yang pernah terjadi di masa lampau.

"Bersatu kita teguh" hanyalah kata belaka; segala sesuatu yang disatukan mungkin lebih kuat dari sebelumnya, tetapi hal itu tidak menjadikannya cukup kuat untuk tujuan tertentu. Berkoloni tanpa kompetensi pribadi sama seperti menggunakan jutaan tusuk gigi sebagai artileri, yang hanya berakhir sebagai sampah yang berserak tanpa ada satupun target yang tumbang menggeletak.

Permasalahan kemandirian manusia sebagai individu yang bermental independen, seperti seekor harimau yang berjalan tenang sembari menggeram seolah menunjukkan kapasitas dan kekuatan dirinya, di masa kini sudah menjadi pembahasan sejak lama yang permasalahannya belum jua selesai. Jika seseorang tidak bisa berjalan sendiri seperti harimau, maka sudah dapat dipastikan bahwa ketika individu-individu ini berkelompok, mereka akan lebih tampak seperti kawanan domba, bukan singa.

Nietzsche mencoba mencurahkan keresahannya terkait permasalahan manusia modern yang terlalu dangkal dan lemah secara mental dengan memfigurkannya dalam sebuah istilah yang terkenal, yaitu Übermensch (Manusia Super), sebagai kebalikan dari Untermensch (Manusia bawahan).

Pada intinya, Nietzsche ingin agar individu tidak terpengaruh secara penuh oleh arus utama masyarakat; individu haruslah memiliki keberanian untuk melawan arus umum ketika hal itu dibutuhkan, dan untuk mendapatkan keberanian tersebut, individu haruslah bernalar bukan dengan nalar kritis umum yang hanya menawarkan literasi berdasarkan referensi yang itu-itu saja. Dengan begitu, individu tersebut mampu mengkritisi dan mengevaluasi nilai-nilai yang ada dalam masyarakat, seperti nilai moderasi, toleransi, keadilan, kemanusiaan, dan segala problematika moral lainnya yang terdisrupsi atau mengalami penyimpangan. Pendekatan ini melahirkan apa yang disebut Nietzsche sebagai individu dengan Moral Tuan dan individu dengan moral budak.


Massa adalah rantai makanan terendah dalam Internal Spesies Manusia

Insting predator manusia tidak berhenti ketika mereka telah berhasil menaklukan seluruh spesies. Tradisi berburu untuk makanan membawa mereka ke babak pertempuran yang baru. Ketika rantai makanan antar spesies sudah berhasil dalam cengkeraman, selanjutnya rantai makanan dengan sesama spesies harus dimenangkan. Dalam babak ini, manusia bukan lagi berburu, melainkan berperang, dan bukan lagi untuk makanan, melainkan untuk kejayaan (kemenangan tanpa henti).

Manusia sebagai homo socius lebih sering digemakan daripada sebagai homo politicus. Alasannya tentu saja karena kata bersosial lebih mudah dipahami daripada kata berpolitik. Terkadang pendidikan dan literasi memang didesain untuk mengajarkan kedangkalan.

Manusia berinteraksi satu sama lain dalam ruang sosial tidak selalu didasarkan pada alasan-alasan afektif yang konotasinya lekat dengan perasaan. Jelas dari beberapa interaksi yang terjadi, manusia akan membawa tujuan dan keuntungannya secara pribadi, karena itulah insting mereka untuk bertahan dan untuk menang. 

Kemampuan manusia untuk bersosialisasi secara untung itulah yang disebut sebagai berpolitik. Kedangkalan tersebut secara sengaja dipertahankan karena orang-orang yang ada dalam kelas atas yang tidak ingin mempunyai penantang yang baru dan selalu ingin memiliki pion dan dadu. 

Ada sisi gelap dari motivasi manusia dalam bersosial, membentuk pesekawanan atau berkelompok. Seperti yang dituliskan Thomas Hobbes bahwa manusia adalah serigala untuk sesamanya, artinya bagi para domba, siapapun yang menempati kelas itu akan sangat dipermainkan.

Para domba tersebut adalah mereka, masyarakat banyak. Kelompok terbesar dalam masyarakat yang literasinya didesain sedemikian rupa. Orang-orang yang diberi pendidikan, paparan ideologi, dijejali keyakinan, dan didikte akan definisi-definisi dari setiap konteks realitasnya secara parsial tanpa adanya ketajaman penalaran. 

Dalam masyarakat demokrasi, di mana kebebasan bersuara, berpendapat, dan berkelompok dikumandangkan sebagai bagian dari hak asasi manusia, para domba seringkali diinduksikan sebagai kaki tangan dari para penguasa dan pengusaha yang ingin mengubah atau mempertahankan atmosfer politik dan bisnis. Itulah mengapa kita familiar dengan istilah seperti buzzer atau penggema.Mengembalikan Insting Solitarian?

Dalam kacamata psikologi, kontribusi moralitas tuan dan moralitas budak Nietzsche diterjemahkan lebih sederhana dengan istilah Mental Mass Disease. Yaitu suatu istilah yang memotret kondisi di mana individu cenderung mengarus dengan narasi yang sedang digaungkan, dengan tren, atau fenomena yang khususnya berkonotasi pada hal-hal yang bersifat diskursif atau berkaitan dengan pembahasan. Individu yang standar kebenarannya adalah sesuatu yang harus disepakati secara kolektif oleh banyak individu lain di luar dirinya. 

Individu yang selalu membutuhkan afirmasi dari individu lain karena ia terlalu takut untuk melakukan kesalahan dan disalahkan. Individu yang tidak memiliki determinasi (kepercayaan diri secara pemahaman dan mental) adalah individu yang sangat potensial untuk mengalami kelemahan dalam tujuan menemukan dan mengasah potensi diri. Bayangkan bagaimana jadinya jika semakin banyak individu yang mengidap mentalitas seperti ini dalam suatu kemasyarakatan berbangsa dan bernegara, seperti Indonesia?

Socrates konon berkata bahwa esensi dari keberadaan manusia adalah keutamaan. Selanjutnya, Aristoteles mendeskripsikan lebih lanjut bahwa keutamaan manusia terdiri dari empat moralitas (sikap positif) dasar, yaitu keberanian, ketegasan, kejujuran, dan tanggung jawab. Dari keempat moral dasar tersebut, esensi dari insting solitarian terletak pada seberapa berani dan seberapa tegas individu tersebut dalam berbeda bahkan berlawanan dengan mayoritas individu lainnya. Seberapa berani dan tegasnya individu tersebut untuk berlaku kontroversial namun tetap dalam koridor diskursus atau keilmuan. Atau mungkin yang paling sederhana adalah seberapa berani dan tegasnya individu tersebut untuk bernalar dalam memahami sesuatu secara berbeda dan mengargumentasikannya untuk diperdebatkan. Membentuk karakter yang mandiri secara pikiran, pemahaman, dan mental dapat dilakukan dalam cara-cara yang sangat sederhana seperti itu. Seberapa besar niat dan kesanggupan kita untuk terlihat berbeda bahkan aneh dan mungkin mendapatkan stigma, bahkan sampai tidak diterima oleh pergumulan sosial. Itulah satu-satunya hal yang harus dipikirkan dan dipertimbangkan dengan bijak.



Penulis: Alfa

Editor: Redaksi Mertika


Posting Komentar

0 Komentar