![]() |
| Ilustrasi: Prompt AI |
Mertika, Sastra - Mimpi buruk selalu datang tanpa izin, hanya tiba-tiba menarik seseorang dari tidurnya sendiri lalu melemparkannya ke dalam relung yang terasa nyata. Dalam mimpi itu, aku berlari tanpa arah, dikejar rasa takut yang bahkan tak punya wujud. Nafasku tersengal, dadaku sesak, dan jalan langkahku sendiri terdengar tersendat. Aku ingin bangun, tapi tubuhku seakan ditahan oleh bayang-bayang yang kerap menempel.
Saat terbangun, dunia terasa asing. Kamar dengan lampu mati, dinding cat putih yang sedikit retak, langit-langit yang terasa rendah, semuanya seperti kehilangan bentuk.
Mimpi memang selalu acak. Ia bekerja dengan sihir yang hanya berlaku di alam bawah sadar, melompat dari satu fragmen ke fragmen lain, mencampur ingatan, harapan, dan kecemasan, wah komposisinya tidak karuan, ia bisa menyuguhkan keindahan, sambil menyelipkan sesuatu yang busuk. Namun di balik keacakannya, mimpi juga kadang jujur. Ia menampilkan apa yang kita tekan terlalu dalam saat goretan luka sedang menganga di batin kita.
Tepat ketika mimpinya mencapai klimaks, aku langsung terbangun, Keringat dingin membasahi pelipis, jantung berdetak lebih cepat dari seharusnya, dan dadaku terasa seperti baru saja dihantam gelombang besar. Ada sisa ketakutan yang tidak ikut bangun sepenuhnya, tapi juga tidak mau pergi. Ia menetap di sela-sela nafas, membuat malam terasa lebih panjang dari biasanya.
Bersama perasaan tak nyaman, reaksi spontan ku adalah bengong, sambil mengumpulkan kesadaran aku mencoba mengurai apa yang terjadi belakangan hingga mimpiku buruk.
Malam itu sepi sekali, hanya terdapat suara hewan-hewan nokturnal yang aktif mencari nafkah hidupnya. Suara katak berteriak nyaring, jangkrik memekik bunyi, dan sesekali tokek menghitung waktu delapan atau sepuluh kali, semuanya saling berirama mengisi bebunyian suasana sekitar rumah yang masih asri, tapi saat itu suasana yang sedemikian syahdu justru menambah rasa takut. Satu-satunya elemen yang membuat rumahku hidup adalah berkat keberadaan satu sosok bernama ibu, kehadiran penting tiada tara, multiperannya membuat bekas warna warna indah di rumah.
Mimpi buruk tadi ada kaitannya dengan sosok paling penting dalam hidupku, aku beranjak keluar kamar berjalan sempoyongan mencari ibu menuju kamarnya, langkahku melewati dapur yang terasa dingin, dan meja makan yang kosong dari cangkir cangkir yang terisi. Ku ketuk kamar dan kubuka, Sejenak kamarnya seperti sedang musim panas, “Nyaman” Ucapku kecil, ibuku yang terbaring tidur membuka matanya, terbangun karena suara kecil dan ketukan yang kubuat, aku tak bermaksud, tapi sepertinya insting seorang ibu membuatnya bisa punya keahlian beristirahat sambil bersiaga.
Dalam keadaan seperti itu, aku tidak pernah benar-benar dewasa. Usia hanya angka, peran sosial juga tak berlaku, yang hidup hanyalah naluri anak yang butuh ibunya.
Tak ada percakapan, aku hanya mendekat, lalu memeluk lembut, “Masih hangat” Ucapku dalam hati, di sinilah letak ajaibnya, waktu melambat, bebunyian hewan di sekitar juga terasa menyenangkan, dinding dengan cat putih yang retak juga terasa ikonik, pelukan itu meredam segala kekhawatiran dan memberikan perasaan damai, benar-benar fitur paling canggih!
Pelukan yang dibalas usapan di punggung itu masih sama sejak bertahun-tahun yang lalu, usapan yang selalu memberikan rasa aman. Sejenak aku sadar bahwa ada hal yang sering terlupa dalam hidup, salah satunya aku bersyukur setiap hari masih bisa melihat surga yang hadir di rumah.
Aku mengerti mimpi buruk itu rupanya bukan tentang kegelapan dan kejaran tanpa wujud, melainkan tentang tali takdir yang sedang menunggu dipotong oleh waktu. Sungguh, sulit membayangkan aku merayakan hari ibu di depan batu, semoga waktu terus berbelas kasih saat aku memeluk ibu.
Penulis: Farhat Kamal
Editor: Redaksi Mertika

0 Komentar