![]() |
| Dokumentasi Diskusi buku "Perjuangan Kita" — Dipotret oleh Peserta |
Mertika, Cirebon— Senja mulai merambat ketika satu per satu peserta memenuhi panggung kampus ISIF Cirebon. Di tengahnya, papan tulis dan minuman teh kemasan yang menemani diskusi buku “Perjuangan Kita” karya Sutan Sjahrir.
Tidak semua peserta menamatkan buku yang dibahas, bahkan ada yang baru sempat membaca beberapa halaman. Meski begitu, keterbatasan ini justru menjadi titik tolak autokritik bagi kolaborasi kami—komunitas literasi Pancaloka, pengurus BEM STIE Cirebon, DEMA ISIF, DEMA UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, serta Mertika.id—dalam merintis gerakan yang baru.
Diskusi pada sore, 9 Juli ini tidak berhenti pada pembacaan sejarah. Forum berusaha menarik gagasan Sjahrir ke dalam lanskap Indonesia hari ini—menguji apakah kritik yang ditulis pada masa revolusi masih menemukan relevansinya di tengah demokrasi kontemporer.
Membaca Ulang Sjahrir: Melawan Fasisme dengan Kesadaran
Ditulis pada masa awal kemerdekaan, Perjuangan Kita merupakan pamflet politik yang lahir sebagai kritik terhadap menguatnya budaya fasisme dan militerisme yang diwariskan penjajahan Jepang. Bagi Sutan Sjahrir, ancaman terbesar setelah kemerdekaan bukan hanya kembalinya kolonialisme dalam bentuk baru, tetapi juga cara berpikir masyarakat yang terbiasa tunduk kepada perintah tanpa mempertanyakan alasan di baliknya.
Dalam buku tersebut, Sjahrir mengkritik budaya militerisme yang menempatkan rakyat sekadar pelaksana instruksi. Kepatuhan dianggap sebagai kebajikan, sementara nalar kritis justru dipinggirkan. Cara pandang inilah yang menurut peserta diskusi masih memiliki "cetak biru" pada kondisi Indonesia sekarang.
"Di Indonesia ini setiap instruksi dari atasan ke bawahan seolah tidak ada proses keraguan. Apa yang diperintahkan langsung dijalankan. Padahal pendidikan politik seharusnya membuat masyarakat mampu bertanya dan mengkritik," ujar salah satu peserta diskusi.
Gagasan tersebut kemudian bertemu dengan konsep sosialisme kerakyatan yang ditawarkan Sjahrir. Berbeda dengan sosialisme revolusioner yang berkembang pada zamannya, Sjahrir memilih jalan penyadaran kelas melalui perjuangan demokratis di dalam partai politik, demokrasi ekonomi, serta pemberdayaan rakyat sebagai subjek perubahan. Ia menolak gagasan bahwa revolusi semata-mata dilakukan melalui kekerasan atau perebutan kekuasaan.
Pilihan itu membuat Sjahrir menuai banyak kritik. Ia pernah dicap sebagai sosialis utopis, bahkan disindir sebagai "sosialis dansa-dansi" karena dianggap terlalu percaya pada pendidikan politik dibanding revolusi bersenjata. Namun justru di situlah letak pembeda pemikirannya. Melalui karya lain seperti Sosialisme dan Marxisme, Sjahrir menjelaskan bahwa kondisi sosial Indonesia berbeda dengan Eropa. Basis buruh industri masih kecil sehingga revolusi ala Marxis dinilai tidak memiliki pijakan material yang kuat.
Meski demikian, pendekatan Sjahrir juga tidak luput dari kritik dalam forum. Beberapa peserta menilai penyadaran kelas membutuhkan waktu yang panjang dan berpotensi melahirkan kelompok elite intelektual baru apabila tidak disertai partisipasi rakyat secara luas.
Dari Kampus hingga Negara
Semakin malam, diskusi semakin jauh dari halaman-halaman buku. Para peserta mulai menghubungkan gagasan Sjahrir dengan pengalaman mereka sebagai mahasiswa, buruh, hingga warga negara.
Salah seorang peserta mengingatkan bahwa perjuangan rakyat sering kali justru menjadikan rakyat sebagai objek.
"Revolusi tanpa membangun kesadaran masyarakat hanya akan melahirkan tokoh baru dan ketokohan baru. Rakyat akhirnya tetap menjadi objek. Padahal perjuangan harus menjadikan rakyat sebagai subjek, bukan sekadar yang diperjuangkan," ungkap salah seorang peserta lainnya.
Peserta lain menyoroti perubahan orientasi para tokoh bangsa. Menurutnya, jika para pendiri bangsa dahulu menulis gagasan untuk membebaskan rakyat, kini banyak tokoh lebih sibuk membangun narasi mengenai dirinya sendiri.
Isu desa dan kota juga mengemuka. Dalam pandangan peserta, tulisan Sjahrir masih relevan ketika desa kerap diposisikan sebagai simbol keterbelakangan, padahal kota hidup dari hasil produksi desa.
"Dulu tokoh-tokoh kita menulis tentang rakyat. Hari ini justru banyak yang menulis biografi dirinya sendiri. Ada pergeseran yang perlu kita sadari," katanya. "Orang kota makan nasi dari desa, tetapi desa selalu dianggap sebagai kemunduran. Itu sebabnya gagasan Sjahrir masih perlu kita hidupkan kembali," Imbuhnya.
Sementara itu, mahasiswa lain menghubungkan pemikiran Sjahrir dengan persoalan kebijakan publik saat ini. Ia menilai rakyat sering kali hanya menjadi objek legitimasi program pemerintah tanpa memperoleh manfaat secara utuh.
"Negara hidup dari pajak rakyat. Seharusnya pelayanan kepada rakyat juga kembali secara adil. Tetapi kenyataannya masih banyak masyarakat yang kesulitan mengakses hak-haknya," tuturnya.
Diskusi kemudian bergeser pada persoalan kapitalisme dan alienasi manusia. Seorang peserta yang berprofesi sebagai buruh menilai kritik Sjahrir tetap relevan di tengah masyarakat yang semakin mengukur manusia berdasarkan nilai ekonominya.
"Hari ini manusia dinilai dari gaji, jabatan, dan modal sosialnya secara materil. Kapitalisme membuat manusia dipandang sebagai alat produksi. Padahal yang ingin dibangun Sjahrir adalah manusia yang merdeka secara kesadaran," ujarnya.
Percakapan tidak selalu berujung pada kesepakatan. Ada yang mempertanyakan apakah penyadaran kelas yang ditawarkan Sjahrir terlalu lambat menghadapi ketimpangan yang terus berlangsung. Ada pula yang menilai pendekatan itu justru lebih berkelanjutan dibanding revolusi yang mengandalkan kekerasan.
Perbedaan itu tidak dianggap sebagai masalah. Sebaliknya, ia menjadi bukti bahwa sebuah buku masih hidup ketika terus diperdebatkan.
Di penghujung forum, moderator mengingatkan bahwa membaca Sjahrir bukan berarti menerima seluruh pikirannya sebagai kebenaran mutlak. Justru sebaliknya, membaca adalah keberanian untuk menguji gagasan, mempertanyakan argumen, lalu menimbang relevansinya dengan kenyataan hari ini.
Barangkali itu pula yang menjadi pelajaran paling berharga dari malam tersebut. Di tengah banjir informasi dan budaya serba instan, membaca kembali pemikir seperti Sutan Sjahrir bukan semata bernostalgia pada sejarah, melainkan latihan untuk merawat nalar kritis. Sebab kesadaran, seperti yang berulang kali muncul dalam diskusi malam itu, tidak pernah lahir dari slogan. Ia tumbuh dari kebiasaan membaca, berdialog, dan keberanian untuk berpikir sendiri.
Penulis: Raihan Athaya Mustafa
Editor: Redaksi Mertika

0 Komentar