Resensi Film Gie: Menumbuhkan Kesadaran Kelas melalui Aktivisme


Mertika, Artikel – Selasa, 30 Juni 2026, penulis bersama mahasiswa Dema Institut Studi Islam Fahmina (ISIF), BEM STIE Cirebon, Dema UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, serta simpul gerakan kecil seperti Mertika.id dan Komunitas Literasi Pancaloka, menggelar pemutaran sekaligus diskusi film Gie. Kegiatan ini bukan sekadar agenda menonton bersama, melainkan ruang membaca ulang sejarah untuk memahami keadaan gerakan mahasiswa hari ini.

Film karya Riri Riza dengan produser Mira Lesmana tersebut memang telah dirilis sejak 2005. Namun, setelah dua puluh tahun berlalu, kisah Soe Hok Gie justru terasa semakin dekat dengan kenyataan. Selama 2 jam 27 menit, penonton diajak menyaksikan pergulatan seorang intelektual muda yang memilih berpihak kepada kemanusiaan di tengah perebutan kekuasaan politik.

Film ini merupakan adaptasi dari buku harian Catatan Seorang Demonstran, yang merekam kegelisahan Soe Hok Gie terhadap perjalanan bangsa pada dekade 1960-an. Lewat akting Nicholas Saputra sebagai Gie dewasa dan Jonathan Mulia sebagai Gie kecil, penonton diajak mengikuti perjalanan seorang mahasiswa yang tidak pernah berhenti mempertanyakan ketidakadilan.

Gie dan Awal Mula Nalar Kritis

Film dibuka dengan masa kecil Gie yang telah menunjukkan kegemaran membaca, keberanian berpendapat, dan kepekaan terhadap ketidakadilan. Ia bahkan berani mengoreksi gurunya ketika merasa kebenara kiilantan sedang diselewengkan. Sikap itu justru dibalas dengan penurunan nilai.

Adegan sederhana tersebut memperlihatkan bahwa ruang pendidikan tidak selalu memberi tempat bagi kebebasan berpikir. Namun, dari rumahnya, Gie memperoleh bekal yang jauh lebih penting. Ayahnya yang gemar menulis dan ibunya yang rajin membelikan buku membentuk kebiasaan membaca sekaligus keberanian berpikir kritis.

Film ini secara halus memperlihatkan bahwa keluarga menjadi fondasi penting dalam membangun karakter intelektual yang tidak mudah tunduk pada kekuasaan.

Singkat cerita, ketika memasuki bangku Universitas Indonesia pada 1962, Gie semakin menemukan ruang untuk mengembangkan pikirannya. Ia membaca semakin banyak, menulis semakin tajam, dan memaknai mahasiswa bukan sebagai calon elite, melainkan bagian dari rakyat yang memiliki tanggung jawab moral mengawasi negara.

Baginya, kampus bukan sekadar tempat memperoleh ijazah. Kampus adalah ruang membangun kesadaran sosial. Ilmu pengetahuan harus menjadi alat membela mereka yang tertindas, bukan sekadar modal memasuki dunia kerja.

Melawan Orde Lama dan Orde Baru Melalui Tulisan

Di tengah pertarungan ideologi nasionalis, agama, dan komunis, Gie memilih jalan yang berbeda. Ia tidak bergabung dengan organisasi politik manapun karena khawatir independensinya hilang. Baginya, keberpihakan kepada rakyat jauh lebih penting dibandingkan keberpihakan kepada partai.

Tulisan-tulisannya menjadi bentuk perlawanan terhadap kebijakan pemerintah yang dinilai gagal menghadirkan keadilan. Film bahkan menampilkan ungkapan ikoniknya, "Politik tai kucing," sebagai bentuk kritik terhadap politik yang hanya mengejar kekuasaan.

Bagi Gie, menulis bukan untuk terkenal, tetapi agar kebohongan tidak menjadi sesuatu yang dianggap biasa.

Pergantian rezim ternyata tidak mengakhiri kegelisahan Gie. Harapan terhadap pemerintahan baru perlahan berubah menjadi kecemasan ketika dominasi militer semakin menguat dan ruang kebebasan semakin menyempit.

Film memperlihatkan bagaimana Gie tetap menulis mengenai berbagai pelanggaran kemanusiaan, termasuk pembantaian terhadap mereka yang dituduh simpatisan PKI di Bali. Yang ia bela bukan ideologi tertentu, melainkan hak setiap manusia memperoleh keadilan.

Semakin ketatnya media membuat banyak tulisannya ditolak. Namun, penolakan itu tidak menghentikan langkahnya untuk terus bersuara.

Film tidak menempatkan Gie sebagai sosok tanpa cela. Ia tetap mengalami kesepian, kebingungan, kegagalan cinta, hingga kelelahan menghadapi realitas politik yang bertolak belakang dengan idealismenya.

Justru di situlah letak kekuatan film ini. Aktivisme tidak menghapus sisi manusia seseorang. Yang membedakan Gie hanyalah konsistensinya untuk tetap berpihak kepada kemanusiaan ketika banyak orang memilih diam.

Pada Desember 1969, Gie mendaki Gunung Semeru bersama rekan-rekan Mahasiswa Pecinta Alam. Gunung menjadi ruang pelariannya dari kebisingan politik.

Namun, perjalanan itu menjadi yang terakhir. Ia meninggal akibat menghirup gas beracun di dekat kawah, tepat sehari sebelum ulang tahunnya yang ke-27.

Film kemudian ditutup dengan kalimat yang hingga kini masih sering dikutip: "Lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan."

Menonton Gie sebagai Ikhtiar Merawat Simpul Gerakan Kecil

Usai pemutaran film, kami melanjutkan diskusi yang dipandu Sukma dan Fazrien. Percakapan berkembang bukan hanya mengenai Soe Hok Gie, tetapi juga mengenai wajah gerakan mahasiswa di Cirebon hari ini.

Diskusi sengaja digelar sebagai respons atas degradasi sebagian kelompok besar dalam dunia gerakan mahasiswa. Tidak semuanya demikian, tetapi tidak sedikit organisasi yang justru terjebak dalam praktik konversi aksi menjadi kepentingan material maupun kedekatan dengan kekuasaan. Akibatnya, banyak isu publik berhenti sebagai demonstrasi seremonial tanpa benar-benar diperjuangkan hingga tuntas di hadapan pengambil kebijakan.

Di sisi lain, kami juga menyadari bahwa kelompok-kelompok besar masih memiliki keunggulan dalam mobilisasi massa, pengaruh politik, serta kemampuan melakukan tekanan terhadap pemerintah. Persoalannya bukan terletak pada besar atau kecilnya organisasi, melainkan sejauh mana independensi tetap dijaga.

Dalam diskusi itu muncul pertanyaan yang terus menghantui kami: seandainya Soe Hok Gie masih hidup hari ini, bagaimana ia memandang gerakan mahasiswa sekarang?

Salah satu kritik paling menarik justru datang dari moderator. Sukma dan Fazrien mengingatkan bahwa tanpa disadari mahasiswa hari ini telah menjadi kelompok yang elitis.

Orientasi kuliah perlahan bergeser. Pendidikan tidak lagi dipahami sebagai proses membangun keberpihakan kepada masyarakat, melainkan sekadar jalan memperoleh pekerjaan, meningkatkan kemampuan profesional, atau mengejar karier pribadi. Padahal, sebagaimana diperlihatkan dalam film, ilmu pengetahuan seharusnya membentuk keberanian berpihak kepada rakyat.

Pers, Kekuasaan, dan Hegemoni Baru di Era Algoritma

Diskusi kemudian bergeser pada kondisi pers. Jika pada masa Orde Baru pembredelan dilakukan secara terbuka, hari ini bentuk tekanannya jauh lebih halus.

Secara formal kebebasan pers dilindungi Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999. Namun, dalam prakteknya, relasi ekonomi antara media dan pemerintah sering kali menciptakan ketergantungan yang mempengaruhi independensi pemberitaan.

Tidak sedikit berita kritis yang hanya bertahan sesaat sebelum kemudian menghilang dari ruang publik. Di balik itu, masyarakat kerap mendengar cerita mengenai berbagai bentuk kerja sama antara media dan pemerintah yang membuat fungsi kontrol melemah.

Fenomena tersebut memperlihatkan bahwa demokrasi tidak selalu dilemahkan melalui sensor langsung. Ia juga dapat melemah melalui ketergantungan ekonomi.

Persoalan lain yang mengemuka adalah hadirnya kecerdasan buatan, media sosial, dan algoritma sebagai arena baru pembentukan opini publik.

Kebenaran hari ini tidak selalu ditentukan oleh kualitas argumen, melainkan oleh seberapa jauh suatu narasi mampu mendominasi ruang digital. Politik citra menjadi jauh lebih efektif dibandingkan pendidikan politik yang substansial.

Akibatnya, masyarakat semakin jauh dari pembahasan mengenai ideologi, kebijakan, maupun arah pembangunan negara. Politik lebih mudah dipahami melalui simbol, slogan, atau citra personal dibandingkan gagasan.

Renungan


Film Gie tidak hanya mengisahkan perjalanan seorang aktivis mahasiswa. Film ini mengingatkan bahwa pendidikan semestinya melahirkan keberpihakan kepada rakyat.

Melalui diskusi kecil yang kami bangun bersama Dema ISIF, BEM STIE Cirebon, Dema UIN Siber Syekh Nurjati, Mertika.id, dan Pancaloka, kami menyadari bahwa perubahan tidak selalu lahir dari organisasi besar. Kami yakin dapat berawal dari simpul-simpul kecil yang masih menjaga kebebasan berpikir, budaya membaca, keberanian berdiskusi, dan konsistensi menyuarakan kepentingan publik.

Barangkali, itulah warisan terbesar Soe Hok Gie. Bukan sekadar demonstrasi, melainkan keberanian menjaga akal sehat ketika kekuasaan berusaha menguasai cara manusia berpikir.

Maka pertanyaannya bukan lagi apakah Gie masih relevan untuk dikenang. Pertanyaannya adalah: di tengah kenyamanan menjadi mahasiswa yang elitis, ruang publik yang semakin dikendalikan algoritma, dan demokrasi yang terus kehilangan daya kritisnya, masih adakah keberanian untuk memilih diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan?


Penulis: Dwi Arya
Editor: Raihan Athaya Mustafa


Posting Komentar

0 Komentar