Angkutan Umum di Cirebon Terus ditinggalkan, Padahal dinilai Bisa jadi “Jaring Pengaman” Saat Ekonomi Melemah

Ilustrasi by AI

Mertika, Cirebon - Pendapat akademisi transportasi nasional yang menyebut angkutan umum dapat menjadi “jaring pengaman” di tengah tekanan ekonomi, berbanding terbalik dengan kondisi di Kabupaten Cirebon. Di saat nilai tukar rupiah melemah dan daya beli masyarakat tertekan, jumlah penumpang angkutan umum justru terus mengalami penurunan.

Akademisi Prodi Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata sekaligus Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia, Djoko Setijowarno, menilai pemerintah belum benar-benar menempatkan transportasi umum sebagai prioritas utama.

Dalam laporan Kompas.com bertajuk  Saat Rupiah Melemah, Transportasi Umum Dinilai Jadi Jaring Pengaman, Djoko menyebut angkutan umum seharusnya diperkuat agar masyarakat memiliki alternatif mobilitas murah ketika biaya hidup meningkat akibat tekanan ekonomi dan potensi kenaikan harga BBM maupun suku cadang kendaraan.

Namun kondisi di Kabupaten Cirebon menunjukkan tren berbeda. Kasi Angkutan Dishub Kabupaten Cirebon, Edi Supriyadi, mengakui jumlah penumpang angkutan desa terus menurun dalam beberapa tahun terakhir.

Menurutnya, masyarakat kini lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi, terutama sepeda motor. Selain dianggap lebih praktis, faktor usia armada angkutan desa yang sudah tua juga membuat masyarakat kurang berminat menggunakan transportasi umum.

“Kalau penyebabnya mungkin masyarakat sekarang banyak memakai kendaraan roda dua. Selain itu kendaraan angkutan desa juga banyak yang sudah tua,” ujar Edi.

Data di Terminal Sumber menunjukkan jumlah armada angkutan desa yang aktif jauh berkurang dibanding alokasi awal trayek. Pada trayek Sumber–Plered misalnya, hanya tercatat 83 unit aktif dari alokasi 100 unit. Sementara trayek Sumber–Sindang–Wanasaba–Wanantara–Kubang hanya menyisakan 5 unit aktif dari alokasi 30 unit.

Bahkan trayek Sumber–Cisaat–Mandala–Cikalahang–Pasar Kramat kini tinggal menyisakan 1 unit aktif dari total alokasi 20 kendaraan.

PLH Koordinator Terminal Sumber, Kadira, menambahkan saat ini trayek yang masih aktif di antaranya Gunung Sari–Sumber atau GS, SP, Kramat–Sumber, serta KS satu hingga KS empat.

“Kalau yang masuk ke Terminal Sumber kurang lebih enam puluh angkot GS,” ujar Kadira.

Ia juga mengungkapkan retribusi angkutan di terminal telah dihapus sejak Januari 2024 berdasarkan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2022. Kebijakan itu diharapkan dapat membantu meringankan beban operasional sopir angkutan umum.

Padahal, di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih, tarif angkutan desa masih tergolong murah dan relatif terjangkau. Untuk pelajar, tarif berkisar Rp3 ribu, sedangkan penumpang umum sekitar Rp5 ribu.

Kondisi tersebut menjadi ironi ketika para ahli transportasi justru menilai angkutan umum seharusnya diperkuat sebagai solusi menghadapi tekanan ekonomi. Djoko Setijowarno bahkan mendorong pemerintah memberikan subsidi atau insentif bagi operator angkutan umum agar tarif tetap stabil dan layanan bisa ditingkatkan.


Sepi Penumpang di Terminal Sumber, Sopir Angkutan Umum Makin Tertekan

Terminal Tipe B Sumber, Dipotret oleh Raihan

Wacana menjadikan transportasi umum sebagai solusi menghadapi tekanan ekonomi ternyata belum sepenuhnya tercermin di lapangan. Di Kabupaten Cirebon, para sopir angkutan umum justru menghadapi kenyataan pahit berupa penurunan jumlah penumpang dari tahun ke tahun.

Di Terminal Sumber, kondisi tersebut terlihat jelas. Puluhan angkutan dalam provinsi hingga angkutan desa masih keluar masuk terminal setiap hari, tetapi tidak sedikit sopir yang memilih tidak beroperasi karena penumpang minim.

PLH Koordinator Terminal Sumber, Kadira, mengatakan penurunan penumpang sebenarnya sudah mulai terasa sejak sebelum pandemi Covid-19. Namun kondisi semakin berat setelah masyarakat semakin bergantung pada kendaraan pribadi dan transportasi online.

“Sekarang orang lebih pilih punya kendaraan sendiri, berangkat sendiri, nganter sendiri,” ujar Kadira.

Menurutnya, faktor maraknya sepeda motor menjadi salah satu penyebab utama masyarakat meninggalkan angkutan umum. Bahkan sebagian sopir memilih tidak berangkat karena pendapatan tidak sebanding dengan biaya operasional dan BBM.

Kadira mengungkapkan, penumpang yang masih cukup rutin menggunakan angkutan umum saat ini didominasi pelajar. Karena itu, saat musim libur sekolah, jumlah penumpang langsung turun drastis.

Data trayek di Terminal Sumber juga menunjukkan banyak armada yang tidak lagi aktif beroperasi. Trayek Kramat–Sumber misalnya, kini hanya memiliki 39 unit aktif dari alokasi 75 kendaraan. Sementara trayek Sumber–Kenanga–Plumbon tinggal 16 unit aktif dari total 50 unit.

Kondisi serupa terjadi di sejumlah trayek lain yang jumlah armadanya terus menyusut dalam beberapa tahun terakhir.

Meski demikian, pihak terminal menilai angkutan umum tetap memiliki peran penting dalam mengurangi kemacetan dan menekan pengeluaran masyarakat. Jika masyarakat kembali memanfaatkan transportasi umum, jumlah kendaraan pribadi di jalan bisa berkurang.

Pandangan tersebut sejalan dengan pendapat akademisi transportasi nasional, Djoko Setijowarno yang dikutip pada awal paragraf. Ia menyebut transportasi umum bisa menjadi “jaring pengaman” ekonomi masyarakat ketika rupiah melemah.

Namun di lapangan, persoalan armada tua, kenyamanan, hingga kalah bersaing dengan transportasi online masih menjadi tantangan besar.

Bertahan Di Tengah Sepinya Penumpang, Sopir Angkutan Desa Cirebon Hidup dari Pelajar

Budi Santoso, Sopir Angkutan Desa - Dipotret oleh Raihan

Di tengah wacana pentingnya transportasi umum sebagai penyangga ekonomi masyarakat, para sopir angkutan desa di Kabupaten Cirebon justru harus bertahan dalam kondisi serba sulit.

Salah satunya dialami Budi Santoso, sopir angkutan desa jurusan Sumber–Klari. Sudah lebih dari dua dekade ia menggantungkan hidup dari menarik angkutan umum. Namun beberapa tahun terakhir, penghasilannya terus menurun.

Menurut Budi, perubahan mulai terasa sejak munculnya transportasi online sekitar tahun 2015. Sejak saat itu, jumlah penumpang terus berkurang drastis.

“Mulai ada transportasi online, penumpang menurun drastis,” ujar Budi.

Kini, penumpang yang masih rutin menggunakan jasanya sebagian besar hanya pelajar dan masyarakat umum yang hendak menuju kantor pelayanan publik seperti Samsat atau pengadilan.

Di luar jam berangkat dan pulang sekolah, angkutan yang dikemudikannya kerap berjalan dengan jumlah penumpang sangat sedikit. Bahkan tak jarang ia tetap beroperasi meski penghasilan hari itu tidak mencukupi kebutuhan rumah tangga.

“Kalau dibilang cukup ya enggak cukup. Tapi mau kerja apa lagi,” katanya.

Data angkutan desa di Terminal Sumber memperlihatkan bagaimana jumlah kendaraan aktif terus menyusut. Dari sembilan trayek angkutan desa yang tercatat, sebagian besar jumlah armada aktif berada jauh di bawah alokasi kendaraan yang tersedia.

Kondisi itu dinilai menjadi gambaran menurunnya minat masyarakat terhadap angkutan umum di daerah. Padahal tarif yang ditawarkan masih relatif murah dan terjangkau bagi masyarakat kecil.

Bagi para sopir angkutan desa di Cirebon, harapan itu masih dinanti. Mereka berharap pemerintah tidak hanya mempertahankan keberadaan angkutan umum, tetapi juga benar-benar membenahi kualitas layanan agar masyarakat kembali percaya menggunakan transportasi umum sebagai kebutuhan sehari-hari.


Penulis: Raihan Athaya Mustafa


Posting Komentar

0 Komentar