![]() |
| Buka Bersama (Bukber) Literasi Kudu Pede Cirebon berkolaborasi dengan Dilektika Muda Cirebon dan Mertika.id di Roso Echo |
Bukber literasi tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga ruang diskusi yang melahirkan gagasan dan rencana konkret di bidang kepenulisan. Di tengah derasnya arus informasi, para peserta mencoba memaknai kembali arti berkumpul, tidak sekadar rutinitas sosial, tetapi sebagai momentum untuk berpikir, berdiskusi, dan menghasilkan karya.
Ketua Kudu Pede Caruban, Sopidi, dalam sambutannya menegaskan bahwa kegiatan ini memiliki tujuan yang lebih dalam dibanding sekadar tradisi berbuka bersama. Ia menyebut bahwa generasi muda perlu mengubah cara pandang terhadap pertemuan semacam ini.
“Berkumpul hari ini bukan lagi sekadar melestarikan kebiasaan, tetapi bagaimana kita mencari makna, menemukan persoalan, dan menghadirkan solusi, terutama bagi kalangan muda,” ujarnya.
Menurut Sopidi, generasi muda saat ini hidup di tengah tantangan era disrupsi yang ditandai dengan melimpahnya informasi. Kondisi ini, kata dia, tidak boleh membuat anak muda pasif atau bingung, melainkan harus dimanfaatkan sebagai peluang untuk berkarya.
Ia mendorong generasi Z untuk tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga mampu mengolahnya menjadi tulisan yang bermakna, baik dalam bentuk buku, artikel, maupun media digital lainnya.
“Anak-anak muda tidak lagi boleh berdiam diri. Informasi yang melimpah harus dijadikan kekuatan dalam bentuk karya tulis,” tegasnya.
Menulis Jejak, Merawat Ingatan Kolektif
![]() |
| Ketua RW, Cak Soleh, Sopidi (Ketua KPC), Romadoni dan Farel (Komunitas Literasi) |
Dalam forum tersebut, salah satu pembahasan utama adalah rencana penulisan buku tentang perjalanan kepemimpinan Bupati Cirebon, Imron Rosyadi. Buku yang direncanakan berjudul Jejak Pengabdian ini akan mengangkat kisah kepemimpinan selama dua periode dari berbagai sudut pandang, mulai dari keluarga, sahabat, hingga masyarakat.
Sopidi menjelaskan bahwa penulisan buku ini bukan sekadar dokumentasi formal, melainkan upaya untuk menangkap makna dari perjalanan kepemimpinan tersebut. Ia menilai bahwa pengalaman seorang kepala daerah selama dua periode memiliki nilai yang penting untuk diwariskan dalam bentuk tulisan.
“Secara literasi, ini penting untuk dilestarikan. Kita ingin mengetahui dan mendapatkan makna dari perjalanan kepemimpinan itu,” jelasnya.
Menurutnya, dokumentasi dalam bentuk buku menjadi bagian dari pembangunan memori kolektif. Generasi mendatang dapat belajar dari pengalaman, kebijakan, hingga dinamika kepemimpinan yang pernah terjadi di daerahnya.
Gagasan penulisan buku ini juga mendapat apresiasi dari berbagai pihak, termasuk komunitas literasi yang terlibat dalam kegiatan tersebut. Kolaborasi lintas komunitas dinilai menjadi kekuatan dalam mewujudkan karya yang tidak hanya informatif, tetapi juga reflektif.
Gen Z Bersuara, Dari Keresahan Menjadi Opini
Selain membahas rencana buku kepemimpinan, diskusi juga mengangkat karya nyata generasi muda melalui buku Gen Z Bersuara. Buku ini merupakan hasil kolaborasi 18 penulis muda dengan latar belakang beragam yang mengangkat isu-isu aktual.
Perwakilan Dialektika Muda Cirebon, Mohamad Romadoni, menyampaikan bahwa buku tersebut lahir dari kegelisahan generasi muda terhadap berbagai persoalan, mulai dari kesehatan mental, lingkungan, hingga dinamika sosial.
“Kami resah dengan berbagai persoalan, mulai dari pekerjaan, lingkungan, hingga perspektif tentang generasi Z itu sendiri. Tapi keresahan itu kami ubah menjadi karya,” ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa literasi menjadi medium penting dalam menyampaikan gagasan. Menurutnya, tulisan dapat menjadi bentuk komunikasi yang mampu membangun kesadaran kolektif di masyarakat.
“Literasi adalah bentuk komunikasi. Tidak hanya menyampaikan masalah, tetapi juga melahirkan ide, kreativitas, dan solusi,” tambahnya.
Hal senada disampaikan oleh perwakilan Mertika.id, Rizqi Alfarel. Ia menilai bahwa literasi tidak hanya sebatas membaca teks, tetapi juga memahami konteks kehidupan sehari-hari.
“Literasi itu bukan hanya membaca teks, tetapi juga membaca konteks. Apa yang kita lihat, dengar, dan rasakan, itu semua bagian dari yang harus kita pahami,” ujarnya.
Ia juga menekankan bahwa kolaborasi antar komunitas menjadi kunci dalam mengembangkan gerakan literasi. Dengan kesamaan visi, berbagai pihak dapat saling mendukung untuk melahirkan karya yang berdampak bagi masyarakat.
Dukungan terhadap kegiatan ini juga datang dari pemerintah daerah. Sekretaris Dinas Pertanian Kabupaten Cirebon, Abdurrahman, mengapresiasi langkah komunitas literasi yang mampu menghadirkan ruang diskusi produktif bagi generasi muda.
“Kegiatan ini sangat positif. Artinya generasi muda sudah berpikir untuk membangun daerah dengan cara yang lebih kreatif dan produktif,” katanya.
Ia berharap kegiatan seperti ini dapat terus berkembang dan menjadi bagian dari upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Kabupaten Cirebon.
Bukber Literasi ini pada akhirnya menjadi lebih dari sekadar pertemuan. Dari ruang sederhana, lahir berbagai gagasan, rencana penulisan buku, hingga karya nyata dari generasi muda. Para peserta menunjukkan bahwa literasi bukan hanya tentang membaca, tetapi juga tentang memahami dan menuliskan kembali realitas.
Di tengah arus informasi yang begitu cepat, kemampuan untuk mengolah dan menyampaikan gagasan menjadi sangat penting. Generasi muda di Cirebon mulai menunjukkan bahwa mereka tidak hanya menjadi bagian dari perubahan, tetapi juga mampu menciptakan perubahan itu sendiri.
Dengan kolaborasi yang terus terjaga, kegiatan ini diharapkan menjadi awal dari gerakan literasi yang lebih luas. Literasi tidak lagi dipandang sebagai aktivitas individu, tetapi sebagai gerakan bersama untuk membangun kesadaran, pengetahuan, dan masa depan yang lebih baik.
Penulis: Raihan Athaya Mustafa
Editor: Redaksi Mertika


0 Komentar