Perempuan, Ras, dan Cara Halus Dunia Menyingkirkan Manusia

Buku "Perempuan, Ras, dan Ingatan" karya Tony Morrison yang terpajang di Rumah Eps Pamitran

Mertika, Artikel- 18 esai yang termaktub dalam buku Perempuan, Ras, dan Ingatan tidak bisa dibaca sebagai satu suara perjuangan perempuan yang tunggal. Kumpulan tulisan Toni Morrison ini terasa seperti serpihan refleksi yang, ketika disatukan, justru memperlihatkan betapa rumitnya cara ketidakadilan bekerja. 

Cover buku yang sekilas tampak seperti autobiografi pada awalnya bukan sesuatu yang sedang aku cari. Buku ini datang dari ruang pertemuan antara aku dengan kawan di Rumah Eps Pamitran, dan dari semacam dorongan untuk menjadikannya konten. Secara tidak langsung membuat buku ini berpindah tangan dan akhirnya sampai untuk aku baca dan resensi.

Tidak aneh sebenarnya. Aku kerap membuat konten, baik dari liputan maupun keresahan sosial, membuat proses membaca selalu beririsan dengan produksi. Di hadapanku waktu itu ada tiga buku Morrison, termasuk Beloved karya yang bentuknya sastra dan lebih populer. Namun pilihanku justru jatuh pada buku esai setebal 166 halaman ini. 

Secara faktual, buku ini adalah kumpulan pidato, ceramah, dan tulisan reflektif Morrison. Namun menyebutnya sekadar kumpulan esai terasa terlalu sederhana. Buku ini lebih tepat dipahami sebagai catatan kaki panjang dari karya-karya fiksinya. Jika novel adalah tubuh, maka buku ini adalah kerangka yang membuat tubuh itu berdiri.

Toni Morrison, dan Perjuangannya dalam Tulisan

Isi buku ini tidak langsung memberi jawaban atas ketidakadilan terhadap perempuan dan ras kulit hitam, melainkan membuka lapisan yang selama ini kerap dianggap wajar. Dalam posisi itu, Toni Morrison hadir bukan sekadar sebagai penulis, tetapi sebagai pembongkar.

Jawaban Morrison tidak romantik. Tidak ada glorifikasi tentang perempuan atau ras kulit hitam. Ia justru menunjukkan hal sebaliknya, bahwa yang diperjuangkan adalah sesuatu yang seharusnya tidak perlu diperjuangkan. Identitas, tubuh, dan warna kulit. Menurutnya, kata “anugerah” yang sebelumnya terasa janggal, perlahan menemukan tempat setelah melihat bagaimana sejarah dan konstruk sosial bekerja menutupinya.

Di bagian ini, pembacaan mulai melebar. Ketika Morrison membongkar Amerika dan Eropa, muncul refleksi lain yang ikut menyelinap. Praktik menghapus atau mereduksi identitas masyarakat minor ternyata bukan sesuatu yang jauh. Bahkan terasa dekat. 

Beberapa esai dalam buku ini, Morrison menjelaskan bahwa dominasi tidak hanya dibangun melalui kekuatan fisik, tetapi juga melalui narasi. Industri hiburan, media massa, bahkan dongeng menjadi alat legitimasi. 

Cinderella, misalnya, tidak lagi sekadar cerita anak-anak. Cerita tersebut memiliki ambisi mengkonstruk pandangan yang menyisipkan standar kecantikan, kelas, dan ras secara halus.

Kesan feminisme dalam buku ini terasa kuat, tetapi tidak berdiri sendiri. Pembahasan tidak berhenti pada gender. Ketimpangan yang diurai bergerak melalui banyak jalur, dari modal sosial hingga material. Maka menyebutnya dengan frasa berlapis seperti “terjalin berakar” terasa berlebihan. Cukup dipahami bahwa ketimpangan terus diproduksi melalui relasi kuasa yang saling menguatkan.

Proses tersebut sering kali tidak kasat mata. Morrison justru menyoroti hal-hal kecil, seperti bahasa. Dari pilihan kata, dari cara seseorang disebut, hingga bagaimana istilah tertentu diproduksi dan diulang. Di situlah stigma tumbuh dan mengeras.

Penggunaan kata untuk orang Afrika-Amerika di media massa, misalnya, tidak berdiri sendiri. Ada hubungan dengan siapa yang menulis, siapa yang memiliki kuasa, dan siapa yang menentukan makna. Dari sini, pembahasan tentang bahasa tidak bisa dilepaskan dari media.

Refleksi dari Ruang Redaksi: Ketika Suara Disaring dan Pasar Menentukan

Media massa, dalam pembacaan Morrison, bukan sekadar penyampai informasi. Media merupakan bagian dari industri. Dan seperti industri lain, mekanisme yang bekerja di dalamnya ditentukan oleh logika keuntungan. Dalam logika tersebut, kebenaran tidak selalu menjadi prioritas. Produktivitas dan keberlanjutan sering kali lebih menentukan arah.

Kalimat Morrison tentang media yang bodoh dan serakah mungkin terdengar keras. Namun ketika dihadapkan dengan pengalaman di lapangan, kritik tersebut tidak sepenuhnya meleset. 

Aku sebagai wartawan di perusahaan media daerah, membuat kepalaku terangguk atas gambaran sudut pandangan Morrison. Bahwa media sering berada di posisi ambigu. Mengklaim idealisme, tetapi tetap harus bernegosiasi dengan realitas secara pragmatis.

Dampaknya terasa sampai ke tingkat akar rumput. Suara dari bawah tidak selalu hilang, tetapi sering kali tidak diberi ruang. Ada proses penyaringan yang bekerja secara halus. Dalam konteks ini, istilah seperti “eksklusi” yang kerap dihadirkan Morrison dapat dipahami sebagai pengucilan yang berlangsung secara sistematis.

Di sinilah buku ini memperluas pembacaan. Pembahasan tidak hanya tentang identitas, tetapi juga tentang modal. Tentang bagaimana uang, institusi, dan kekuasaan saling berkaitan dalam menentukan siapa yang didengar dan siapa yang dibungkam.

Meski demikian, buku ini tidak jatuh pada pesimisme. Toni Morrison tidak menawarkan keputusasaan. Yang dibuka justru ruang kesadaran. Dengan memahami bagaimana ketimpangan diproduksi, pembaca diajak untuk lebih peka, tidak hanya sebagai individu, tetapi juga sebagai bagian dari sistem.

Sebagai resensi, buku ini memang tidak ringan. Gaya Morrison reflektif dan filosofis, menuntut pembaca untuk benar-benar hadir. Namun terjemahan Endah Raharjo cukup berhasil menjaga keseimbangan antara kedalaman dan keterbacaan.

Pada akhirnya, Perempuan, Ras, dan Ingatan bukan buku yang selesai dibaca lalu dilupakan. Buku ini akan terus kembali dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan kecil yang mengganggu.

Dan resensi ini, pada akhirnya, bukan sekadar membaca buku. Tulisan ini juga menjadi cara untuk menjawab kenapa buku ini yang dipilih, dan kenapa dibaca sekarang.

Mungkin karena ada kegelisahan yang sama. Dan mungkin juga karena, seperti yang ditunjukkan Morrison, ingatan tidak pernah benar-benar selesai. Ingatan terus hidup, bergerak, dan diperebutkan.


Penulis: Raihan Athaya Mustafa

Editor: Redaksi Mertika


Posting Komentar

0 Komentar