![]() |
| SPBU Jl. Brigjend Dharsono – Dipotret oleh Raihan |
Mertika, Cirebon—Antrean kendaraan di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Kabupaten Cirebon belakangan menjadi pemandangan yang semakin lazim. Pada jam-jam tertentu, antrean bahkan mengular hingga keluar area SPBU dan memasuki badan jalan.
Salah satu lokasi yang mengalami kondisi tersebut ialah SPBU berkode 34.45119 di Desa Kemantren, Kecamatan Sumber. Berdasarkan pantauan lapangan pada 29 Juni 2026, antrean didominasi kendaraan yang mengisi Pertalite.
Sejumlah warga menilai kondisi ini mulai terasa sejak kenaikan harga Pertamax beberapa waktu lalu. Mereka mengaku mulai mengubah pola konsumsi bahan bakar demi menekan pengeluaran.
Seorang konsumen Pertamax yang enggan disebutkan namanya mengatakan kenaikan harga Pertamax cukup mempengaruhi biaya operasional kendaraan. Karena alasan ekonomi, ia mengaku sesekali beralih menggunakan Pertalite agar lebih hemat.
"Sejak harga Pertamax naik, pengeluaran untuk BBM memang terasa lebih besar. Sekarang saya sesekali isi Pertalite supaya lebih hemat."
Informasi serupa disampaikan seorang petugas SPBU yang juga meminta identitasnya tidak dipublikasikan. Menurutnya, peningkatan permintaan Pertalite membuat konsumsi harian meningkat sehingga distribusi terkadang terlambat mengikuti kebutuhan di lapangan.
“Kadang pengiriman datangnya telat tuh a. karena kebutuhan juga meningkat."
Kesaksian Petugas: Antrean Mulai Terasa Setelah Kenaikan Pertamax
Petugas kebersihan SPBU Kemantren, Ali Zainal, menjadi salah satu saksi yang setiap hari melihat aktivitas di lokasi pengisian bahan bakar tersebut. Meski bukan petugas operasional, ia mengaku cukup memahami perubahan kondisi SPBU karena bekerja setiap hari di area tersebut.
Menurut Ali, lonjakan antrean mulai terlihat setelah kenaikan harga Pertamax. Banyak pengendara yang sebelumnya memilih Pertamax kini beralih membeli Pertalite.
"Yang saya tahu, ramainya itu mulai sejak kenaikan Pertamax. Orang-orang akhirnya beralih ke Pertalite karena selisih harganya lumayan,” ujar Ali.
Sebelum harga Pertamax naik, menurutnya, masyarakat justru cenderung memilih Pertamax ketika melihat antrean Pertalite cukup panjang. Kini kondisi tersebut berbalik. Pengendara lebih memilih menunggu antrean Pertalite daripada membeli Pertamax.
Ali juga mengaku beberapa kali melihat antrean kendaraan memanjang hingga ke jalan raya. Bahkan, menurut pengamatannya, Pertalite pernah tidak tersedia sementara karena keterlambatan pengiriman.
"Kalau dulu, daripada antre Pertalite, orang lebih memilih isi Pertamax. Sekarang kebalikannya, orang rela antre Pertalite."
Meski demikian, ia mengaku tidak mengetahui secara pasti penyebab keterlambatan tersebut karena bukan menjadi bagian dari informasi internal perusahaan.
Sebagai masyarakat, Ali berharap pemerintah dapat menjaga stabilitas harga BBM. Menurutnya, kenaikan harga bahan bakar tidak hanya memengaruhi biaya transportasi, tetapi juga berdampak pada harga kebutuhan pokok dan aktivitas ekonomi masyarakat secara umum.
SPBU Jamblang: Permintaan Pertalite Memang Naik, tetapi Pasokan Mengikuti Jadwal
Gambaran berbeda disampaikan SPBU 34.45125 Jamblang. Pengawas SPBU, Mahardi, menjelaskan antrean sebenarnya sudah terjadi sebelum kenaikan harga Pertamax. Namun, setelah penyesuaian harga, jumlah konsumen Pertalite memang meningkat dibanding sebelumnya.
"Sebelum kenaikan harga sebenarnya antrean sudah ada. Tapi setelah Pertamax naik, penggunaan Pertalite memang jadi lebih banyak."
Menurut Mahardi, pasokan BBM di SPBU tidak ditentukan berdasarkan permintaan harian, melainkan berdasarkan alokasi (kuota) yang telah ditetapkan Pertamina.
Dalam sehari, SPBU menerima pengiriman Pertalite sebanyak 8 kiloliter atau 16 kiloliter, tergantung jadwal yang telah ditentukan. Seluruh pengiriman tersebut dipastikan datang, hanya waktu kedatangannya yang dapat berbeda-beda, mulai pagi, siang hingga sore hari.
"SPBU mengikuti alokasi dari Pertamina. Kalau hari itu jatahnya 8 kiloliter atau 16 kiloliter, ya kami menerima sesuai kuota itu."
Ia menegaskan SPBU tidak dapat mengajukan tambahan pasokan secara mendadak ketika antrean meningkat. Seluruh distribusi mengikuti jadwal dan kuota yang telah ditetapkan Pertamina.
Di SPBU Jamblang sendiri, kapasitas tangki Pertalite mencapai 60 kiloliter yang terbagi dalam dua tangki penyimpanan. Sementara Pertamax memiliki kapasitas 20 kiloliter dan solar sekitar 32 kiloliter.
Meski demikian, tingginya permintaan membuat pasokan yang baru datang relatif cepat habis. Mahardi mencontohkan, ketika SPBU menerima pengiriman 8 kilo liter Pertalite, stok tersebut sering kali langsung habis karena banyak konsumen dari SPBU lain yang datang ketika lokasi asal mereka sedang kosong.
“Banyak konsumen dari SPBU lain datang ke sini ketika di tempat lain stoknya kosong,” Ujar Mahardi.
Pertamina: Pasokan Aman, Antrean Dipicu Lonjakan Permintaan
Upaya konfirmasi kepada SBM Pertamina wilayah Cirebon belum membuahkan hasil karena pihak Pertamina belum dapat memberikan wawancara secara langsung. Sebagai gantinya, PT Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Barat menyampaikan pernyataan tertulis pada, 2 Juni 2026.
Pertamina memastikan pasokan BBM, khususnya Pertalite, di Kabupaten Cirebon dalam kondisi aman. Perseroan menyebut stok di Terminal BBM maupun di SPBU tersedia dan penyaluran terus dilakukan sesuai kebutuhan.
Menurut Pertamina, antrean kendaraan di sejumlah SPBU terjadi karena meningkatnya permintaan Pertalite dalam waktu bersamaan, bukan akibat kekosongan stok secara umum.
Pertamina juga mengimbau masyarakat menggunakan bahan bakar sesuai spesifikasi mesin kendaraan. Bagi kendaraan yang direkomendasikan menggunakan BBM beroktan lebih tinggi, masyarakat diminta tetap menggunakan Pertamax agar performa mesin tetap optimal.
Berikut Redaksi pesan dari Pertamina:
“Standby Statement
Pertamina Patra Niaga Pastikan Pasokan BBM Aman di Cirebon, Antrean Terjadi Akibat Peningkatan Permintaan*
PT Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Barat (JBB) memastikan pasokan BBM, khususnya subsidi Pertalite, di wilayah Kabupaten Cirebon dalam kondisi aman dan tersedia untuk memenuhi kebutuhan masyarakat pada Senin (2/7).
Terkait adanya antrean kendaraan di sejumlah SPBU di Kabupaten Cirebon, Pertamina menjelaskan bahwa kondisi tersebut terjadi akibat meningkatnya permintaan Pertalite. Stok BBM di Terminal BBM maupun SPBU dalam kondisi aman, dan penyaluran kepada SPBU terus dilakukan sesuai kebutuhan agar pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan optimal.
Pertamina mengimbau masyarakat untuk selalu menggunakan BBM sesuai dengan jenis kendaraannya. Bagi kendaraan dengan spesifikasi mesin yang direkomendasikan menggunakan BBM beroktan lebih tinggi, masyarakat diharapkan tetap menggunakan Pertamax agar performa mesin tetap optimal.
Apabila masyarakat membutuhkan informasi terkait produk maupun layanan Pertamina, masyarakat dapat menghubungi Pertamina Contact Center (PCC) 135 atau pcc135@pertamina.com.”
Antrean Belum Usai
Kondisi di lapangan memperlihatkan adanya pergeseran pola konsumsi masyarakat setelah kenaikan harga Pertamax. Peralihan sebagian pengguna menuju Pertalite membuat permintaan meningkat, sementara distribusi tetap mengikuti kuota yang telah ditentukan.
Di sisi lain, Pertamina memastikan stok BBM masih dalam kondisi aman. Dengan demikian, persoalan yang muncul bukan semata-mata karena ketiadaan pasokan, melainkan bertemunya lonjakan permintaan dalam waktu bersamaan dengan pola distribusi yang telah dijadwalkan.
Selama pola konsumsi masyarakat masih didominasi Pertalite, antrean di sejumlah SPBU Kabupaten Cirebon diperkirakan masih akan menjadi bagian dari aktivitas harian, terutama pada jam-jam sibuk maupun menjelang kedatangan mobil tangki pengangkut BBM.
Penulis: Raihan Athaya Mustafa
Editor: Redaksi Mertika

0 Komentar