Penanganan Sampah Dinilai Hanya Formalitas, TPS Kecomberan Kembali Over Kapasitas

 

Mertika, Cirebon – Belum genap sepekan setelah dilakukan pengerukan oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Cirebon, Tempat Pembuangan Sampah (TPS) Kecomberan di Kecamatan Talun kembali mengalami over kapasitas. Tumpukan sampah kembali menggunung hingga meluber ke area sekitar TPS dan memicu keresahan warga.

Kondisi ini membuat warga mempertanyakan efektivitas penanganan yang dilakukan pemerintah daerah beberapa waktu lalu. Pasalnya, pengerukan yang melibatkan sejumlah armada dan alat berat tersebut sebelumnya digadang-gadang sebagai solusi atas persoalan sampah yang telah lama dikeluhkan masyarakat sekitar, khususnya warga Perumahan Puri Cirebon Lestari (PCL).

Salah seorang warga, Jaenudin, mengaku heran dengan penanganan yang dilakukan pekan lalu. Menurutnya, sampah yang diangkut saat itu tidak benar-benar dihabiskan sehingga penumpukan kembali terjadi dalam waktu singkat.

"Ini sudah sering, hampir tiap minggu. Minggu lalu kita melakukan aksi bersih-bersih dan koordinasi dengan pemerintah daerah. Tapi ternyata hasilnya sampah tetap menggunung, bahkan tambah bau," ujar Jaenudin.

Ia menilai langkah yang dilakukan DLH saat itu lebih bersifat seremonial dibanding menyelesaikan akar persoalan yang terjadi di TPS tersebut.

"Kalau menurut kami hanya seremonial. Hanya mengangkut seperti biasa saja, tidak ada tindakan yang benar-benar menyelesaikan masalah. Akhirnya sampah tetap menggunung dan sampai ke jalan," katanya.

Menurut Jaenudin, warga sebenarnya tidak pernah menuntut penutupan total TPS Kecomberan. Yang diinginkan masyarakat hanyalah pengelolaan yang sesuai fungsi, yakni sebagai tempat penampungan sementara sebelum sampah diangkut ke tempat pembuangan akhir.

"Warga bukan ingin menutup TPS. Kami hanya ingin ada komitmen pengangkutan yang rutin dan TPS ini dikelola sesuai fungsinya. Kalau memang TPS, ya hanya sementara sebelum dibawa ke TPA. Sekarang yang terjadi justru seperti tempat pembuangan akhir," ujarnya. 

Ia menjelaskan, selama lebih dari dua dekade keberadaan TPS tersebut tidak pernah menjadi persoalan serius karena sistem pengangkutannya masih berjalan normal. Masalah mulai muncul ketika sampah tidak lagi terangkut secara rutin

"Tempat ini sudah lebih dari 20 tahun ada. Kami tidak pernah melakukan aksi seperti sekarang. Ketika proses pengangkutannya berjalan baik, tidak ada masalah. Tapi ketika sampah menumpuk seperti sekarang, tentu membuat warga tidak nyaman," katanya.

Jaenudin juga menegaskan bahwa volume sampah yang ada di TPS tersebut tidak hanya berasal dari Perumahan Puri Cirebon Lestari. Menurutnya, sampah berasal dari berbagai kawasan permukiman dan aktivitas masyarakat di sekitar wilayah Talun.

"Kalau hanya dari PCL, tidak mungkin sebanyak ini. Warga PCL sekitar 200 kepala keluarga. Sampah di sini berasal dari berbagai wilayah sekitar yang dibuang ke TPS ini," jelasnya.

Selain menimbulkan pemandangan yang tidak sedap, penumpukan sampah juga berdampak langsung terhadap kesehatan warga. Bau menyengat disebut dapat tercium hingga ratusan meter dari lokasi TPS.

"Yang paling mengganggu itu baunya. Sampai sekitar 200 meter masih tercium. Kemudian lalat sudah masuk ke rumah-rumah warga. Makanan juga jadi terganggu karena banyak lalat," ungkapnya.

Tak hanya itu, upaya mengurangi volume sampah dengan cara membakar juga dinilai menimbulkan persoalan baru.

"Kadang ada yang dibakar supaya berkurang. Tapi asapnya justru mengganggu. Ada warga yang punya riwayat sesak napas jadi kambuh karena asap pembakaran sampah," katanya.

Jaenudin mengungkapkan, warga bahkan pernah mengeluarkan dana pribadi untuk membantu pengangkutan sampah. Namun langkah tersebut tidak memberikan hasil yang signifikan karena sampah kembali berdatangan dari luar kawasan perumahan.

"Kami pernah urunan pakai uang sendiri untuk membantu pengangkutan dan biaya alat berat. Tapi tidak tuntas. Yang jadi masalah, warga yang bayar, tapi sampah yang masuk berasal dari banyak pihak," ujarnya.

Karena itu, warga berharap pemerintah daerah segera mengambil langkah yang lebih serius dan berkelanjutan dalam menangani persoalan sampah di TPS Kecomberan. Mereka juga membuka ruang dialog dengan pemerintah agar solusi dapat dicari bersama tanpa harus menempuh aksi-aksi yang berpotensi mengganggu aktivitas masyarakat.

"Kami berharap ada komunikasi yang baik dan solusi yang nyata. Kami tidak menuntut lebih. Hanya ingin TPS ini bersih, sampah diangkut secara rutin, dan fungsinya kembali seperti semula sebagai tempat penampungan sementara," pungkasnya.

Posting Komentar

0 Komentar