![]() |
| Dokumentasi kegiatan menanam pada, 13 September 2026 — Dipotret Angga |
Di akhir pekan, sinar mentari pesisir menghangatkan tubuh lebih dari cahaya manapun di Kota Cirebon. Waktu yang tepat untuk liburan dan olahraga, namun ada segelintir orang yang justru melangkah ke pesisir sembari menggenggam tunas mangrove secara rutin kedepannya.
Mereka berkumpul dalam komunitas bernama Pantura Coastal Connection. Sebuah komunitas yang bergerak di ranah lingkungan, spesifik pesisir Pantura. Untuk saat ini mereka menaruh fokus pada pemulihan hutan mangrove di pesisir.
Saat di lokasi, Widi (33), pria yang memimpin penanaman pada Minggu, 13 September 2026, mengajak peserta masuk ke tempat penanaman, melewati pematang empang yang airnya surut, tanahnya retak, dan di beberapa sudut masih menggenang. Di belakangnya, tiga anggota Pantura Coastal Connection mengikuti: Firman (26), berambut buzzcut dengan anting di telinga; Johan (33), lelaki berkacamata hitam; dan Dela. Bergabung pula keluarga Dela, ayah dan ibunya, yang bukan anggota komunitas tapi ikut menanam.
Mereka tidak datang sendiri dengan kesombongan pahlawan, mereka datang bersama para petani mangrove yang turut memetakan bambu di tanah, supaya tidak ada yang tiba-tiba terhisap lumpur pesisir yang menyamar menjadi tanah.
Satu petani melubangi tanah dengan bambu, petani lain memasukkan bambu kecil untuk penyangga mangrove. Salah satunya Nursin—berkulit cokelat khas pesisir dan kantung mata yang tebal—penjual tunas mangrove pun turut membantu penanaman. Dua lelaki paruh baya, Aep dan Feri pun turut menancapkan bilah bambu yang sudah dipotong kecil ke tanah.
Sementara itu, Firman, si hip-hoper asal Kota Cirebon mulai memasukkan id card ke leher mangrove. Isinya nama pendonasi dan beserta akun sosial media mereka. Kata Firman, tunas ini hasil dari para donatur yang peduli lingkungan.
Persiapan selesai, saatnya menanam. Tapi ini tak seperti menanam pohon di halaman. Kami meniti bambu yang dibentangkan di atas lumpur, berjongkok, lalu berdiri lagi dengan tangan terentang, mencari titik seimbang agar tak tercebur.
Polybag dikupas, tunas mangrove ditancapkan ke lumpur. Tali rafia melingkar di lehernya, mengikatnya pada bambu supaya tak digulung ombak. Dari tunas-tunas mungil inilah benteng penahan abrasi itu mulai berdiri.
Sesudah menanam dan sambil bersantai, Pak Nursin mengajak kita berkenalan dengan mangrove yang sudah dewasa. Mangrove yang menyerap racun di tanah, menahan residu perusahaan batu bara, sekaligus menjadi habitat rajungan.
“Ini namanya Mangrove api-api, nama latinnya Avicennia. Buahnya beracun, tidak bisa dimakan.” Lalu ada peserta yang bertanya kenapa, “Karena fungsi dari pohon ini untuk menyerap racun yang ada di tanah,” jawab Pak Nursin.
Di sebelahnya pula ada mangrove jenis Bakau, daunnya yang sedikit lebar dapat menahan residu batu bara yang berterbangan.
“Nah, kalau ini jenis Bakau, atau Rhizophora.” Tunjuk Pak Nursin. “Ini daunnya lebar, bagus untuk menahan debu batu bara. Nih lihat yang hitam-hitam (di daun), ini bekasnya.” Tangannya menggosok permukaan daun dan memperlihatkannya ke peserta.
Kue mulai dihidangkan, kopi diseduh. Mulai terasa hangat ikatan sementara yang dibuat komunitas dan petani ini. Isi percakapan pun masih seputar mangrove. Di Timur ada beberapa tanah kering retak, tertancap bibit mangrove yang kering.
“Dulu, saat kami tanam, di situ tanahnya lembab, bagus. Sekarang malah kering,” jelas Pak Aep.
“Memang laut sulit diprediksi,” tambah Pak Feri sehabis menyeruput kopi.
Satu Solusi Untuk Satu Masalah
Tidak hanya pesisir, hampir semua sektor lingkungan seperti kualitas udara; sanitasi air; keasaman tanah; hingga berkurangnya flora dan fauna menjadi masalah yang mengancam keberagaman lingkungan.
Pesisir sebagai pertemuan dari pemukiman dan laut pun turut menjadi korban. Air laut yang terkontaminasi limbah industri, sampah-sampah domestik yang dihasilkan rumah-rumah—yang dihasilkan oleh pabrik-pabrik—juga berkontribusi dalam merusak alam.
Pantura Coastal Connection sadar akan masalah ini. Namun, bagi mereka mangrove bukan hanya sekadar solusi atau variabel semata. Diskursus Ekologi Politik menyebutkan bahwa penanaman Mangrove adalah logika untuk memperbaiki dampak, bukan sumber.
Jika dampak yang dibenahi alih-alih sumber masih beroperasi, ini tidak akan ada habisnya. Sayangnya, bukan itu yang dipikirkan komunitas kecil ini.
“Bagi kami aktivitas ini bukan menanam kemudian ditinggalkan. Selain fungsinya sebagai akar yang menjaga tanah; melindungi ikan-ikan; dan menjaga rajungan, mangrove adalah kacamata yang memahami hubungan antara alam dan kehidupan ekonomi masyarakat.” Tulis Widi di Whatsapp (6/9/2026).
Pantura Coastal Connection memahami bahwa akar masalah lingkungan tidak hanya abrasi dan solusinya bukan mangrove saja.
“Kami sadar bahwa menanam mangrove tidak membuat masalah lingkungan menjadi debu. Setiap isu lingkungan memiliki karakter dan solusinya masing-masing, dan cara kami untuk menjaga alam yakni menanam mangrove.”
Komunitas penjaga pesisir ini ingin membangun kesadaran lingkungan yang lebih kolektif bersama-sama.
Upaya Komunitas
Mengenai masalah anggota dan pendanaan juga Widi sudah perkirakan. Menurutnya sebuah komunitas tidak bisa dilihat dari anggota dan dana semata. Ada yang lebih penting seperti konsistensi; kepercayaan; dan berkolaborasi yang kadang sulit diukur secara kuantitatif.
Widi dan teman-teman sadar bahwa keterbatasan anggota dan pendanaan adalah tantangan. Tetapi, mereka melihat komunitas bukan hanya dari jumlah orang atau besarnya dana. Yang paling penting adalah konsistensi, kepercayaan, dan kemampuan membangun kolaborasi.
“Untuk pendanaan, kami juga tidak ingin hanya mengandalkan donasi. Ke depan kami ingin membangun berbagai bentuk kolaborasi dan kegiatan yang memiliki nilai ekonomi sekaligus memberikan manfaat lingkungan.” Melalui pesan Whatsapp.
”Selama masih ada orang yang peduli, mau bekerja bersama, dan mau memberikan waktu serta tenaga, kami percaya gerakan ini masih bisa terus hidup dan berkembang,” yakin Widi.
Sebagaimana tunas mangrove yang harus terus dijaga dan dirawat agar tetap hidup, berkembang, dan akarnya kuat menancap di tanah.
Penulis: Angga Putra Mahardika
Editor: Redaksi Mertika

0 Komentar