![]() |
| Dipotret oleh Raihan dan diedit oleh AI |
Mertika, Cirebon - Kenaikan harga kebutuhan pokok masih menjadi keluhan utama pedagang dan masyarakat di sejumlah pasar tradisional di Cirebon. Meski sebagian harga tercatat stabil dalam laporan resmi pasar, para pedagang menyebut harga sejumlah komoditas strategis seperti cabai, bawang merah, hingga minyak goreng masih berada di level tinggi dan membebani daya beli masyarakat.
Di Pasar Pasalaran Kabupaten Cirebon, harga cabai rawit merah tercatat mencapai Rp90 ribu per kilogram berdasarkan data pemantauan harga per 24 Mei 2026 yang disampaikan Kepala Pasar Pasalaran, Siti Nuraeni Hasanah. Sementara cabai merah biasa dan cabai merah keriting masing-masing berada di angka Rp60 ribu per kilogram.
Harga bawang merah bertahan di angka Rp45 ribu per kilogram, sedangkan bawang putih kating mencapai Rp35 ribu per kilogram. Untuk minyak goreng curah dan minyak kemasan merek Tropical, harga berada di kisaran Rp21 ribu per kilogram atau liter.
Selain komoditas hortikultura, sejumlah kebutuhan pokok lain juga masih bertahan di harga tinggi. Beras premium dijual Rp15 ribu per kilogram, gula pasir Rp18 ribu per kilogram, telur ayam negeri Rp26 ribu per kilogram, serta daging sapi mencapai Rp155 ribu per kilogram.
Meski dalam laporan harian sebagian besar harga disebut “tetap”, kondisi di lapangan menurut pedagang tetap dirasakan berat.
Salah satu pedagang sembako Pasar Pasalaran, Eeng Heryati, mengaku kenaikan harga paling terasa terjadi pada cabai dan bawang merah dalam beberapa pekan terakhir.
“Kalau cabai sekarang Rp75 ribu sampai Rp90 ribu. Dulu masih Rp25 ribu sampai Rp35 ribu. Bawang merah juga sekarang Rp50 ribu,” ujarnya.
Menurut Eeng, kenaikan tidak hanya terjadi pada bahan pangan segar, tetapi juga produk kebutuhan pendukung seperti bihun, soun, hingga plastik kemasan.
Ia menyebut harga plastik bahkan naik hampir dua kali lipat, dari sebelumnya Rp28 ribu menjadi Rp44 ribu per kilogram. Kondisi ini membuat pedagang kecil semakin tertekan karena biaya operasional ikut meningkat.
Minyak Goreng Subsidi Mulai Sulit Didapat
Selain harga yang tinggi, pedagang juga mulai mengeluhkan distribusi minyak goreng bersubsidi yang dinilai terlambat. Eeng mengaku sudah hampir satu bulan tidak menerima pasokan minyak subsidi kemasan literan.
“Yang subsidi belum datang-datang. Biasanya seminggu sekali atau dua minggu sekali datang, sekarang sudah hampir sebulan telat,” katanya.
Untuk memenuhi kebutuhan pelanggan, pedagang terpaksa mencari pasokan dari pihak lain dengan margin keuntungan yang sangat kecil. Menurut Eeng, keuntungan penjualan minyak hanya berkisar Rp500 hingga Rp2 ribu per botol.
Meski demikian, stok minyak goreng di pasar disebut masih tersedia, hanya saja harga jualnya masih tinggi bagi masyarakat kecil.
Perbandingan Harga di Pasar Kanoman Kota Cirebon
Kondisi serupa juga terjadi di Pasar Kanoman Kota Cirebon. Berdasarkan data harga kebutuhan pokok per 18 Mei 2026 yang disampaikan Kepala Pasar Kanoman, Dodi, sejumlah komoditas juga berada di level tinggi.
Harga minyak goreng curah di Pasar Kanoman mencapai Rp22 ribu per kilogram, sedikit lebih tinggi dibanding Pasar Pasalaran yang berada di angka Rp21 ribu. Daging sapi mencapai Rp160 ribu per kilogram, sedangkan telur ayam ras Rp27 ribu per kilogram.
Untuk komoditas cabai, harga di Pasar Kanoman hampir serupa dengan Pasar Pasalaran. Cabai merah besar dan cabai merah keriting dijual Rp60 ribu per kilogram, sedangkan cabai rawit super mencapai Rp90 ribu per kilogram.
Sementara bawang merah berada di angka Rp45 ribu per kilogram dan bawang putih kating mencapai Rp45 ribu per kilogram, lebih tinggi dibanding Pasar Pasalaran yang berada di angka Rp35 ribu.
Beberapa komoditas sayur mayur juga mengalami kenaikan, seperti wortel Rp16 ribu per kilogram, kentang Rp18 ribu, dan tomat Rp18 ribu per kilogram.
Pedagang Harap Harga Segera Stabil
Pedagang berharap kondisi harga dapat segera stabil, terutama menjelang meningkatnya kebutuhan masyarakat. Mereka menilai fluktuasi harga yang berkepanjangan membuat masyarakat semakin berhati-hati dalam berbelanja.
Eeng berharap kondisi ekonomi membaik dan harga kebutuhan pokok bisa kembali normal agar pedagang maupun masyarakat kecil tidak semakin terbebani.
“Kasihan masyarakat kecil. Pengennya harga stabil lagi,” katanya.
Penulis: Raihan Athaya Mustafa

0 Komentar